Sabtu, 12 Juli 2014

Pudarnya peran politik ulama

Peberadaan ulama di tengah-tengah masyarakat amat penting bagi kehidupan umat. Sosok yang disebut oleh Rasulullah saw. sebagai pewaris para nabi (Waratsatul Anbiya’) dituntut untuk memainkan perannya sebagai pemimpin umat dalam meneruskan dakwah Rasulullah saw.; berdiri di garda terdepan bersama umat menegakkan kalimatilLah di muka bumi.
Ulama adalah figur sentral yang sangat berpengaruh terhadap kondisi suatu masyarakat. Mereka memiliki andil besar apakah suatu masyarakat itu dalam kebaikan ataukah dalam keburukan. Jika ulama menjalankan tugasnya dengan baik niscaya umat dapat menjadi baik. Jika ulama abai terhadap tugasnya, niscaya umat juga menjadi rusak. Gambaran ini sebagaimana dituturkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum ad-Din (VII/92): rusaknya masyarakat akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama.
Saat ini kondisi umat Islam begitu memprihatinkan. Hal ini tercermin pada semua lini kehidupan; sektor politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Seluruh negeri Muslim masih dijajah, baik itu secara fisik maupun non-fisik. Alhasil, terjadilah penistaan terhadap Islam dan kaum Muslim. Kemiskinan, dekadensi moral dan perpecahan terus mewarnai kehidupan umat Islam.
Carut-marutnya Dunia Islam tersebut diakibatkan karena umat Islam sudah tak lagi memiliki perisai pelindung bagi umat, sebagai penjaga kemuliaan Islam dan kaum Muslim, sebuah institusi politik penerap syariah Islam secara kaffah. Itulah negara khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah.
Akibat ketiadaan khilafah ini, hukum Islam terus di sia-siakan, sementara hukum kufur justru menjadi kredo para penguasa. Maka dari itu, sudah selayaknya para ulama tak boleh tinggal diam atas perkara besar ini. Ulama harus lantang menyampaikan kebenaran meski itu pahit.
Ulama harus sadar politik. Politik dalam arti pengaturan urusan umat. Menimbang segala permasalahan umat dengan sudut pandang Islam dan mengambil solusi atas segala persoalan dengan solusi Islam. Ulama harus terus melakukan amar makruf nahi mungkar, sigap mengawal penguasa dalam menerapkan hukum-hukum-Nya. Saat peran politik ulama pudar, implikasinya seperti yang dialami dunia Islam saat ini.
Pudarnya Peran Politik Ulama
Pudarnya peran politik ulama dicirikan oleh kemunculan beberapa tipikal ulama berikut:
1.       Ulama yang apolitis. Ulama jenis ini tidak hirau dengan persoalan politik umat.
Detik ini negeri-negeri kaum Muslim di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Suriah, Afrika Tengah, Rohingnya dll terus mengalami penistaan. Pembantaian terus terjadi dengan jumlah kerugian jiwa maupun materi sudah tak terhitung lagi. Sayangnya, banyak ulama yang tidak begitu peduli dengan kondisi ini. Sebagai contoh ada seorang ulama yang dikenal cukup kontroversial asal Indonesia, justru sempat-sempatnya menyindir melalui iklan media massa atas penderitaan saudara di Timur Tengah demi kepentingan kampanye politik sebuah parpol dalam rangka pemenangan Pemilu 2014. Di Saudi Arabia, beberapa waktu lalu keluar fatwa nyleneh dari seorang mufti Kerajaan yang melarang para pemuda Arab berjihad mempertahankan bumi kaum Muslim dan membela saudaranya di Suriah (Saudi Pers Agency, 23/03/13).
2.       Ulama salathin pembela penguasa zalim.
Ulama salathin merupakan bagian dari ulama su’. Sebagaimana menurut Imam Al-Ghazali, ada dua jenis ulama: ulama akhirat/ulama al-khair (ulama yang baik) dan ulama dunia/ulama su’ (ulama yang jelek). Ulama akhirat adalah ulama pewaris para nabi. Mereka membimbing ke jalan keselamatan dan menjadi pelita bagi umat. Ulama dunia adalah ulama yang menjadi penyesat dan perusak; ia beramal tak sesuai ilmunya. Mereka begitu mencintai harta dan jabatan sehingga rela menjual agamanya. Keberadaan ulama su’ ini dicela oleh Rasulullah saw., “Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama sû’. Mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu.” (HR. Al-Hakim).
Ulama salathin berada di pintu-pintu penguasa guna menyenangkan para penguasa dengan mengharap imbalan jabatan maupun harta. Kasus ini terjadi di banyak negeri Muslim. Cukup banyak ulama yang telah dikooptasi oleh para penguasa dan menjadi penopang eksisnya sebuah rezim. Para ulama ini acap mengeluarkan fatwa-fatwa pesanan penguasa untuk memuluskan kepentingan tuannya itu. Di Mesir, misalnya, pasca tergulingnya Mursi, seperti diberitakan laman New York Times (25/08/13), Presiden Al-Sisi menggandeng para ulama untuk tampil di media-media setempat guna membunuh karakter lawan politiknya, yakni Ikhwanul Muslimin.
3.       Ulama yang mempromosikan sistem kufur: demokrasi, sekularisme, pluralisme, nasiona-lisme, dll.
Jika orang kafir Barat mempromosikan sistem kufur (demokrasi, sekularisme, kapitalisme, nasionalisme, dll), tentu bisa dikatakan wajar. Pasalnya, sistem ini memang lahir dari Barat dan buah pikir para intelektual barat. Namun, akan tampak aneh ketika sistem kufur justru dipromosikan oleh kaum Muslim apalagi ulama. Padahal Allah SWT telah menyediakan sistem-Nya, yakni sistem Islam.
Para ulama ini gencar melakukan promosi sistem kufur melalui khutbah-khutbahnya maupun buku-buku yang telah mereka tulis dengan cara melegimitasi dengan nash-nash syariah. Mereka memaksa untuk mengawinkan Islam dengan sistem kufur. Hasilnya pun cukup berhasil menginspirasi sebagian umat Islam yang kemudian menjadi pengemban dan pembela sistem kufur karena mengikuti ulama tersebut.
4.       Ulama “selebriti” yang mengikuti selera pasar.
Tak sedikit ulama yang hanya mengikuti selera pasar dalam materi dakwahnya. Mereka cenderung khawatir ditinggal penggemarnya alias tidak laku lagi sebagai da’i apabila menyampaikan suatu kebenaran. Padahal umat ini membutuhkan dakwah yang bersifat menyeluruh (kaffah) dengan tidak menyembunyikan sebagian syariah yang lain.
Ketika dakwah dilakukan dengan cara memilih dan memilah yang sekiranya materi itu disukai umat, dakwah pun gagal menjadikan umat berkepribadian Islam secara utuh. Misal, umat mungkin rajin shalat dan shalawat, namun mereka masih ridha terhadap demokrasi sistem kufur; atau umat menjadi rajin bersedekah dan berakhlak baik terhadap sesama, tetapi masih akrab dengan riba dan budaya hedonis lainnya.
5.       Ulama yang justru menganggap syariah dan khilafah sebagai ancaman.
Ulama seperti ini benar-benar keterlaluan. Entah apa yang ada di benaknya saat menganggap sistem yang dirujuk dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. sebagai ancaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak segan-segan mereka pun menyatakan penolakan terbuka atas upaya penegakkan syariah dan khilafah dengan berbagai alasan yang dikemukakan. Bahkan di beberapa kesempatan mereka mencoba melakukan black campaign kepada pejuang khilafah di hadapan khalayak umum.
Faktor Penyebab
Setidaknya ada beberapa faktor penyebab mengapa fenomena di atas bisa terjadi.
1.       Ulama tidak memahami Islam sebagai sebuah ideologi atau sistem kehidupan.
Gencarnya serangan pemikiran yang dilancarkan Barat mengakibatkan umat Islam termasuk sebagian ulamanya mengalami kemunduran berpikir. Dampaknya, Islam tak lagi dipandang sebagai sebuah sistem ideologi (mabda’). Ulama yang tak memiliki kesadaraan ideologis ini melakukan syiar agama layaknya rahib-rahib di agama lain. Mereka hanya menitik beratkan pada persoalan ukhrawi saja. Disiplin ilmu yang dikuasai ulama ini pun tak lagi komprehensif. Dakwahnya sebatas persoalan syariah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Adapun syariah yang mengatur hubungan manusia dengan sesama (politik, ekonomi, dsb) masih belum didalami. Ekonomi Islam, misalnya, dipahami sebatas bank syariah, atau politik Islam dipahami sebatas politik yang jujur dan santun.
2.       Ulama terlalu cinta dunia dan takut penguasa.
Banyak ulama yang terlalu mencintai dunia sehingga lisannya mulai kelu untuk menyampaikan kebenaran, terutama di hadapan penguasa. Harta dan jabatan memang tampak manis dan lezat untuk dinikmati. Awalnya ulama tersebut memiliki motivasi tinggi bahwa dengan harta dan jabatan itu akan melancarkan dakwah. Namun, saat dirasa kemewahan dunia itu begitu mempesona, idealisme ulama pun kian pudar. Ia sangat takut kehilangan harta maupun jabatannya apabila menyerukan kebenaran.
Saking cintanya pada dunia, ulama ini pun menjadi takut dengan penguasa. Ia takut mengambil risiko atas dakwahnya jika harus mengoreksi penguasa. Hal ini bertolak belakang dengan para ulama dulu Mereka begitu berani mengingatkan penguasa meski harus berhadapan dengan hukuman yang bisa mengancam nyawanya.
3.       Ulama gagal memahami fakta dan realitas: ideologi kufur, pemikiran kufur, dll.
Ideologi dan pemikiran kufur seperti halnya demokrasi memang didesain oleh Barat sedemikian rupa supaya tampak indah. Hasilnya, umat termasuk sebagian ulama mempunyai kesimpulan yang keliru terhadap realitas demokrasi. Misal, demokrasi dianggap tidak bertentangan dengan Islam karena mirip dengan syura (musyawarah). Padahal menyamakan syura dengan demokrasi adalah kesimpulan yang prematur. Demokrasi adalah sebuah pandangan hidup yang menyerahkan kedaulatan (kewenangan membuat hukum) berada di tangan manusia. Dalam demokrasi, manusialah yang berhak membuat hukum dan undang-undang yang kemudian diwakilkan kepada wakil rakyat. Adapun syura dalam Islam adalah perkara teknis pengambilan pendapat yang itu boleh dilakukan asal dalam koridor syariah Islam.
4.       Ulama terpengaruh pemikiran sekular yang memisahkan agama dengan politik.
Virus sekularisme (pemisahan agama dengan kehidupan) juga menjangkiti sebagian ulama. Contohnya muncul ungkapan-ungkapan dari beberapa ulama bahwa syariah Islam memang cocok diterapkan pada zaman Nabi saw., tetapi tidak cocok diterapkan pada zaman sekarang. Bukankah al-Quran dan as-Sunnah itu berlaku hingga akhir zaman.
Ada pula yang beranggapan bahwa syariah Islam itu tidak perlu diformalisasikan dan cukup substansinya saja. Padahal tidak ada ideologi manapun yang bisa ditegakkan hanya cukup substansinya saja. Karena itu, jika ulama mendukung syariah Islam cukup hanya substansinya berarti mereka mendukung formalisasi ideologi lain.
5.       Ulama bingung mencari akar penyebab persoalan umat.
Tak sedikit ulama yang masih bingung mencari persoalan utama umat sehingga muncul ragam anggapan. Pihak yang menganggap akar persoalan umat ialah ekonomi bergeraklah di bidang ekonomi seperti pendirian lembaga keuangan syariah. Pihak yang beranggapan bahwa persoalan umat ialah pada keterbelakangan ilmu fokus pada bidang pendidikan seperti mendirikan sekolah-sekolah. Pihak yang menganggap persoalan umat terletak pada bidang sosial bergerak di bidang sosial. Demikian seterusnya.
Apakah aktivitasnya itu keliru? Tentu tidak. Namun, bilamana yang dilakukan sebatas itu dan tidak bersedia ikut memperjuangkan tegaknya ideologi Islam, sesungguhnya hal itu tak akan dapat membangkitkan umat. Pasalnya, persoalan-persoalan umat seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dll bermuara pada tidak adanya penerapan syariah Islam secara kaffah dalam nanungan negara khilafah. Inilah persoalan utama umat.
6.       Ulama yang memang dipromosikan oleh Barat.
Faktor lain penyebab pudarnya peran politik ulama ialah datang dari ulama-ulama yang memang direkomendasikan oleh Barat. Mereka adalah ulama-ulama yang berpikiran moderat dan juga berpikiran liberal sehingga disukai dunia Barat. Amerika Serikat kepergok beberapa kali turut membesarkan nama ulama-ulama ini dengan cara memberikan mereka penghargaan khusus. Seorang ulama terkemuka asal Indonesia pada tahun 2008 misalnya pernah menyabet beberapa penghargaan dari lembaga-lembaga Amerika Serikat, seperti dari Simon Wiethemthal Center, yang memberikan penghargaan soal HAM, atau lembaga Mebal Valor yang memberikan penghargaan terkait pembelaan kaum minoritas.
Umat Merindukan Ulama Akhirat
Dari realitas di atas terbaca betapa umat amat membutuhkan kiprah ulama akhirat yang benar-benar menjalankan tugas keulamaannya dengan baik, yang menuntun umat menuju jalan selamat dunia-akhirat.
Secercah asa pun kini kian terang. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya para ulama yang mulai menyadari peran dan tanggung jawab mereka. Salah satu contohnya ialah ketika pada tahun 2009 lalu ribuan ulama berkumpul dalam sebuah muktamar guna membahas persoalan umat. Mereka bersepakat untuk berjuang melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya syariah dan khilafah. Sungguh umat sangat merindukan ulama akhirat.
Wallahu a’lam. [Ali Mustofa Akbar; Maktab I’lamiy HTI Soloraya]
Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/03/pudarnya-peran-politik-ulama/

Sistem rusak membuat masyarakat menjadi rusak



Kemarin yg ngompor2in sebar2 berita,aib,fitnah pilih capres A / B | skrg api sdh jd besar & membakar krn itu,sdh sulit diadem2in

Sistem rusak menghasilkan cara2 yg rusak,halalkan segala cara yg penting menang!

Demokrasi bisa mengharamkan yg halal,menghalalkan yg haram | begitu banyak ketetapan Allah diganti seenaknya 

Hanya dgn demokrasi tempat pelacuran bisa dilegalkan #SistemRusak

Hanya demokrasi minuman keras/khamr bisa diperjualbelikan dilegalkan negara #SistemRusak

Hanya dgn demokrasi riba malah diwajibkan utk syarat pinjaman uang ke nasabah #SistemRusak

Hanya dgn demokrasi kekayaan SDA yg Allah wajibkan sbg haknya rakyat malah dikuasai asing #SistemRusak


Demokrasi dianggap suara rakyat suara tuhan,bebas buat Aturan tak pedulikan aturan Allah #SistemRusak

Jangan mau dibohongi wahai generasi unggul,Al Quran dan Al Hadits sbg petunjuk jalan yg lurus,yg mngikutinya tdk akan tersesat

Hanya sistem rusaklah yg memalaki rakyatnya dgn pajak! pdhal jelas Allah melarang.namun SDA yg bernilai trilyunan malah dikasih2 ke asing

Seakan tdk ada pilihan lain selain partisipasi dlm pesta kesesatan (demokrasi),siapapun pemimpinny jk sistem rusak mk tdk akan perub berarti

tugas kita melakukan penyadaran,ktika min 2 % saja rakyat telah paham,maka kan membangun opini lainnya utk lakukan perubahan sistem

98% sisanya adlah mayoritas yg hny ikut2an,yang tdk mau mikir akan perubahan

Teori piramid dmn yg pd bagian puncak akan beri pengaruhi bawahnya yg lbih besar,riset tlah buktikan

Islam datang dlm jumlah sedikit dan akan kembali dlm jumlah yg sedikit,beruntunglah org2 yg sdkit.. demikian sabda Rasulullah

Setiap perubahan membutuhkan suatu proses,tdk bisa dgn instant.. diperlukan kesabaran dan istikomah.. teruntuk para pejuang

"Islam mulai muncul dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya maka beruntunglah org2 asing itu” (HR.Muslim)


























pic.twitter.com/cRuFPBVlTS


Jumat, 11 Juli 2014

Kemenangan melawan zionis israel dengan Khilafah



Berulang kali bangsa Yahudi sejak zaman Nabi Musa selalu berbuat ingkar (fasik) dan zalim

sampai Allah pernah murka dan di suatu desa penduduk yahudi yg ingkar tsb dikutuk mjd kera

"Sesungguhnya tlah km ktahui org2 yg melanggar diantaramu pd hari sabtu,lalu Kami berfirman kpd mrk:"Jadilah km kera yg hina”QS.AlBaqoroh:65

Dlm QS Al Israa ttg bangsa yahudi:"km akan membuat kerusakan di muka bumi Ini.. & pasti km akan menyombongkan diri dgn kesombongan yg besar”

Sampai dgn hari kiamat yahudi akan sll membuat kerusakan,hingga akhirnya tjd peperangan besar dgn umat muslim sbg salah satu tnd kiamat

"Tidak akan tiba hari kiamat sehingga kaum muslimin berperang melawan Yahudi.."(HR.Muttafaq ‘alaihi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

jelaslah dari zaman Nabi Musa-Nabi Muhammad dan sampai skrg yahudi sll mengingkari perjanjian yg dibuat

spt tjd di zaman Rasul dmn Dulu seorang tukang emas Yahudi Bani Qainuqa menganiaya kehormatan seorang Muslimah

melecehkan Dengan mengikat pinggir bajunya sehingga menyebabkan tubuhnya tersingkap

Akhirnya Nabi SAW. mengirimkan pasukan melawan dan setelah 15 hari pengepungan seluruh suku Bani Qainuqa diusir dari Madinah

Tdk ada bahasa yg bisa dipahami oleh yahudi laknatullah ini selain memeranginya! Namun sekutunya amerika pun tdk akan tinggal diam

umat muslim dpt memenangkannya jk ada persatuan,tdk bs spt sekarang yg terpecah belah kedlm negara2 sesuai kpentingan masing2 dbwh asing

Sesuai janji Rasulullah melalui sabdanya bhw akan ada masa khilafah yg berjalan atas dasar metode kenabian stelah masa diktator (pemaksa)

masa diktator pemimpin2 Arab yg bkuasa pluhan thn mulai berlalu spt kita lihat kejadian arab spring di Libya,Mesir,Yaman,Tunisia,Suriah

Tdk lama lagi tiba saatnya sesuai janji Rasulullah maka kan tegak kembali negara super power Khilafah yg menyatukan negara2 muslim

Setelah Kekhalifahan Turkey Utsmani dihancurkan thn1924 oleh yahudi dan sekutunya melalui anteknya Mustafa Kemal Attaturk

berikut koran terbitan tahun 1924 ttg runtuhnya kekhalifahan, berganti mjd negara Nasionalis Turkey pic.twitter.com/4OIePN9Ltv


Foto Khalifah Abdul Hamid II, pemimpin negara Khilafah Turkey Utsmani terakhir pic.twitter.com/tU4CPscJWT


Berikut sejarah bagaimana khalifah Abdul Hamid II mempertahankan tanah Palestina sampai akhirnya direbut yahudi > http://mediaumat.com/sosok/1527-38-sultan-abdul-hamid-ii-pemimpin-amanah-yang-dikhianati.html …

amat disayangkan sejarah telah diputar balik,kisah sejarah kejayaan Islam dihapuskan,bahkan bnyk ulama yg tdk tau dgn jelas apa khilafah itu

dan mirisnya banyak ulama yg shrsnya membela berdiri tegaknya malah mengecam dgn slogan2 "harga mati!" "lihat sejarah kemerdekaan" dll

Patut diingat sejarah tdk berhenti dimasa tahun 1945,jauh sblm itu yg hingga buat Islam sampai ke kita adlah zaman kesultanan dbhw khilafah

Wali Songo yg kita tahu pun utusan dari kekhalifahan,kalau tdk mungkin Indonesia saat ini tdk beragama mayoritas muslim

Baca tentang detil para Wali yg di utus kekhalifahan utsmani > http://zubaidy.blogspot.com/2013/03/wali-songo-para-utusan-khilafah.html?m=1 …

secara logika awam kerajaan2 Islam dulu dipimpin seorg Sultan,drmana sebutan Sultan ini berasal selain krn bagian dari kekhilafahan

lihatlah foto2 Sultan2 di Indonesia dgn pakaian yg mirip (terutama topi),yg masih adlah Sultan Hamengkebuwono raja Jogja

Carilah informasi detai selain dari kami,bagaimana bangsa muslim terpecah2 mjd negara2 dgn dibuat terkotak2 atas nama nasionalisme

bukankah sesama muslim bersaudara ? apakah kita ingin mengikuti Al Quran dan Hadits atau ikuti fanatik buta tanpa dasar?

Terakhir ttg apa sebenarnya ikatan kebangsaan kita? apakah sdh benar ikatan ini? silakan dibaca > http://pejuangallahswt.blogspot.com/2013_08_01_archive.html?m=0 …

Ada dan tdk ada kita Khilafah tetap akan tegak sesuai Hadits Rasulullah,tinggal mau tdk ikut ambil bagian meraih pahala tertinggi

Ingin ttp diam melihat saudara2 kita dibantai di Palestina,Rohingya,Afrika? di fitnah teroris,nabi dihina,AlQuran dinistakan.mari berjuang!

ini kami share sedikit bagaimana tahapan perjuangan yg hrs dilakukan ssuai yg dicontohkan Rasulullah > http://pejuangallahswt.blogspot.com/2014/07/cara-menegakkan-daulah-khilafah.html?m=1 …

Satu peluru hanya bisa menembus satu kepala,tapi satu gagasan mampu menembus jutaan kepala. -Sayyid Quthb-

Kamis, 10 Juli 2014

Hubungan Khilafah dengan Nusantara : Wali Songo adalah Utusan Khilafah

Hubungan Khilafah dengan Nusantara : Wali Songo adalah Utusan Khilafah

Di samping penerapan syariah Islam, hubungan Nusantara dengan Khilafah Islam pun terjalin. Pada tahun 100 H (718 M) Raja Sriwijaya Jambi yang bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari Khilafah Bani Umayyah. Sang Raja meminta dikirimi dai yang bisa menjelaskan Islam kepadanya. Dua tahun kemudian, yakni tahun 720 M, Raja Srindravarman, yang semula Hindu, masuk Islam. Sriwijaya Jambi pun dikenal dengan nama Sribuza Islam. (Ayzumardi Azra, 2005).

Sebagian pengemban dakwah Islam juga merupakan utusan langsung yang dikirim oleh Khalifah melalui amilnya. Tahun 808H/1404M adalah awal kali ulama utusan Khalifah Muhammad I ke Pulau Jawa (yang kelak dikenal dengan nama Walisongo). Setiap periode ada utusan yang tetap dan ada pula yang diganti. Pengiriman ini dilakukan selama lima periode. (Rahimsyah, Kisah Wali Songo, t.t., Karya Agung Surabaya, hlm. 6).

Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.

Hubungan ini tampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan. Abdul Qadir dari Kesultanan Banten, misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Makkah saat itu. Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar sultan dari Syarif Makkah tahun 1051 H (1641 M) dengan gelar, Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. (Ensiklopedia Tematik Dunia Islam Asia Tenggara, 2002). Bahkan Banten sejak awal memang menganggap dirinya sebagai Kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. (Ensiklopedia Tematis Dunia Islam, Struktur Politik dan Ulama: Kesultanan Banten, 2002).

Selain itu, Snouck Hurgrounye, sebagaimana yang dikutip oleh Deliar Noer, mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, melihat stambol (Istanbul, ibukota Khalifah Usmaniyah) senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang Mukmin dan tetap (dipandang) sebagai raja dari segala raja di dunia. (Deliar Noer, 1991).

Penjajah Belanda Menghapuskan Jejak Itu

Pada masa penjajahan, Belanda berupaya menghapuskan penerapan syariah Islam oleh hampir seluruh kesultanan Islam di Indonesia. Salah satu langkah penting yang dilakukan Belanda adalah menyusupkan pemikiran dan politik sekular melalui Snouck Hurgronye. Dia menyatakan dengan tegas bahwa musuh kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama. (H. Aqib Suminto, 1986).

Dari pandangan Snouck tersebut penjajah Belanda kemudian berupaya melemahkan dan menghancurkan Islam dengan 3 cara. Pertama: memberangus politik dan institusi politik/pemerintahan Islam. Dihapuslah kesultanan Islam. Contohnya adalah Banten. Sejak Belanda menguasai Batavia, Kesultanan Islam Banten langsung diserang dan dihancurkan. Seluruh penerapan Islam dicabut, lalu diganti dengan peraturan kolonial.

Kedua: melalui kerjasama raja/sultan dengan penjajah Belanda. Hal ini tampak di Kerajaan Islam Demak. Pelaksanaan syariah Islam bergantung pada sikap sultannya. Di Kerajaan Mataram, misalnya, penerapan Islam mulai menurun sejak Kerajaan Mataram dipimpin Amangkurat I yang bekerjasama dengan Belanda.

Ketiga: dengan menyebar para orientalis yang dipelihara oleh pemerintah penjajah. Pemerintah Belanda membuat Kantoor voor Inlandsche zaken yang lebih terkenal dengan kantor agama (penasihat pemerintah dalam masalah pribumi). Kantor ini bertugas membuat ordonansi (UU) yang mengebiri dan menghancurkan Islam. Salah satu pimpinannya adalah Snouck Hurgronye. Dikeluarkanlah: Ordonansi Peradilan Agama tahun 1882, yang dimaksudkan agar politik tidak mencampuri urusan agama (sekularisasi); Ordonansi Pendidikan, yang menempatkan Islam sebagai saingan yang harus dihadapi; Ordonansi Guru tahun 1905 yang mewajibkan setiap guru agama Islam memiliki izin; Ordonansi Sekolah Liar tahun 1880 dan 1923, yang merupakan percobaan untuk membunuh sekolah-sekolah Islam. Sekolah Islam didudukkan sebagai sekolah liar. (H. Aqib Suminto, 1986).

Demikianlah, syariah Islam mulai diganti oleh penjajah Belanda dengan hukum-hukum sekular. Hukum-hukum sekular ini terus berlangsung hingga sekarang. Walhasil, tidak salah jika dikatakan bahwa hukum-hukum yang berlaku di negeri ini saat ini merupakan warisan dari penjajah; sesuatu yang justru seharusnya dienyahkan oleh kaum Muslim, sebagaimana mereka dulu berhasil mengenyahkan sang penjajah: Belanda. []
[www.al-khilafah.org]

Sumber

Wali Songo Para Utusan Khilafah Utsmaniyyah





Tahukah anda? Wali Songo adalah para dai yang diutus Sultan Mahmud 1 dari Khilafah Utsmaniyyah untuk menyebarkan Islam di Nusantara


Jumlah dai yg diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 7 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang.


Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.


Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.




Seangkatan dg beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.


Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.


Juga Syaikh Ja'far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sbg Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka.berdua dari Palestina.


Maka jgn heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dg nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha didalamnya.


Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa

Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X.


Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.


Sultan Muhammad I itu membentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.


Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:

1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara.

2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan.

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir.

4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko.

5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara.

6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan.

7. Maulana Hasanudin, dari Palestina.

8. Maulana Aliyudin, dari Palestina.

9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.


Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan

2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir

4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina

7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina

8. Maulana 'Aliyuddin, asal Palestina

9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.


Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan

2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir

4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim


Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan

2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak

4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim


Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah

3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak

4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim


Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim

2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah

3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak

4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon

5. Sunan Kudus, asal Palestina

6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang

7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim

8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim

9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim


dari http://mricanmedia.blogspot.com/2013/02/sekilas-wali-songo-para-utusan-khilafah.html

cara menegakkan Daulah Khilafah


Cara Nabi Muhammad Tegakkan Daulah Khilafah Islamiyah

Imam Al-Qurthubi menyatakan, 'Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat khalifah) di kalangan umat dan para imam mazhab; kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-'Ashamâ??yang tuli ('asham) terhadap syariahâ??dan siapa saja yang berkata dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya'(Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubi, 1/264).
Permasalahan berikutnya adalah bagaimana metode (thariqah/manhaj) penegakan Khilafah? Metode
(thariqah/manhaj) haruslah digali dari Rasulullah saw. Setiap perjuangan yang menyimpang dari metode Rasulullah saw. hanya akan berakhir dengan kegagalan.
Siapapun yang melakukan penelaahan mendalam terhadap sirah Nabi Muhammad saw. akan menemukan bahwa beliau menempuh tiga tahapan dalam mewujudkan pemerintahan Islam di Madinah.
1. Tahap Pertama: Kaderisasi (Tatsqif).
Sejak beliau mendapatkan wahyu, beliau diperintahkan untuk menyampaikannya kepada masyarakat. Misalnya, ketika Allah SWT menurunkan QS al-Muddatsir ayat 1-2, bersegeralah sang Nabi terakhir itu mengajak masyarakat untuk memeluk Islam. Beliau menyampaikan Islam kepada istrinya, Khadijah ra. Kemudian, disampaikan pula kepada sepupunya Ali bin Abi Thalib ra., maulanya Zaid, sahabat beliau Abu Bakar ash-Shiddiq ra., dan masyarakat secara umum.
Beliau bukan sekadar mengajak mereka masuk Islam, melainkan ditindaklanjuti dengan membinanya. Beliau membina kaum Mukmin di rumah Arqam bin Abi al-Arqam (Dar al-Arqam). Di rumah Arqam itulah Rasulullah saw. menempa para Sahabat, mengajarkan Islam kepada mereka, membacakan al-Quran kepada mereka, menjelaskannya, memerintahkan mereka untuk menghapal dan memahami al-Quran. Setiap kali ada yang masuk Islam, langsung digabungkan ke Darul Arqam.
Di sinilah Nabi saw. melakukan dua hal. Pertama: pembinaan akidah dan syariah hingga terbentuk para kader berkepribadian Islam. Kedua: pengorganisasian Sahabat sehingga membentuk kelompok dakwah yang secara solid dan berjamaah bergerak di tengah masyarakat. Bukan hanya Nabi saw. seorang diri yang melakukan pembinaan, para Sahabat lain pun mencari dan membina orang yang baru masuk Islam. Sebagai contoh, beliau pernah meminta Khubbab bin al-Arts untuk mengajarkan al-Quran kepada Zaenab binti al-Khaththab dan suaminya, Said, di rumahnya.
Bila dilihat dari kacamata modern apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw ini merupakan pembinaan intensif (tatsqif murakkaz). Pembinaan intensif ini dilakukan untuk membentuk kader yang berkepribadian Islam dan siap berjuang.
Secara praktis pembinaan intensif ini diawali dengan melakukan kontak individual. Dulu, Abu Bakar Shiddiq ra. mengontak keluarga dan kawan-kawannya, di antaranya Utsman bin Affan. Lalu disampaikan Islam kepadanya. Begitu juga setiap orang harus melakukan kontak individual untuk menyampaikan dakwah. Setiap aktivis dakwah sejatinya mempunyai daftar nama mulai dari kerabat, kawan dan tetangga untuk dikontak dan disampaikan Islam kepada mereka. Materi yang disampaikan tentu bergantung pada kontakan; bisa akidah, syariah, akhlak atau perkembangan terkini dilihat dari kacamata Islam.
Sebagaimana Nabi saw., tidak cukup sebatas orang tersebut menerima Islam sebagai pedoman hidupnya. Orang tersebut perlu dibina hingga menjadi pengemban dakwah. Umumnya, pengkaderan demikian efektif dijalankan dalam bentuk halqah. Di dalamhalqah dilakukan pembinaan dengan kurikulum yang jelas, buku-buku kajian tertentu yang ditetapkan, serta metode talaqqi sehingga kesinambungan gagasan terjaga. Di sinilah setiap kader ditempa pemahaman Islam, kepribadian Islamnya, ibadah, ketaatan, kedisiplinan, pengorbanan, kejamaahan, dll. Lahirlah kader yang mujahid (pejuang) sekaligus muta'abbid (ahli ibadah), mufakkir (pemikir) sekaligus siyasi (politisi).
Selain itu, Nabi saw. pernah menyampaikan Islam dengan cara mengumpulkan masyarakat di Bukit Shafa, juga mengundang makan bersama; dalam konteks sekarang ini merupakan pembinaan umum (tatsqif jama'i). Kalau dulu di Bukit Safa atau di kebun kurma, maka saat ini tatsqif jama'i dilakukan dengan seminar, kajian di masjid, kuliah zuhur, pesantren Ramadhan, training, pengajian perkantoran, dll. Harapannya, dari aktivitas tersebut dapat terjaring orang-orang yang bertekad kuat menjadi kader dakwah dan masuk dalam pembinaan intensif.
2. Tahap Kedua: Membangun Kesadaran Umat (Tafa'ul Ma'al Ummah).
Tidak semua anggota masyarakat dapat dan mau menjadi kader dakwah. Karenanya, perlu ada penumbuhan kesadaran kolektif umat bagi kalangan tersebut. Pegiatnya adalah para kader dakwah yang terorganisir rapi yang terbina dalam pembinaan intensif tersebut. Untuk menumbuhkan kesadaran itu perlu ditempuh beberapa hal secara bersamaan, yaitu:
1. Pergolakan Pemikiran (ash-Shira' al-Fikri). Rasulullah saw. senantiasa melakukan pergolakan pemikiran terhadap gagasan/ide/pandangan yang sifatnya tetap. Ini umumnya merupakan pemahaman (mafahim), tolok ukur (maqayis) atau keyakinan (qana'at). Misalnya, beliau menyuarakan secara lantang realitas tuhan kaum kafir seperti ayat Allah SWT (yang artinya): Sesungguhnya kalian dan apa (berhala) yang kalian sembah adalah umpan neraka Jahanam (QS al-Anbiya' [21]: 98). Beliau juga menentang sikap hidup kafir Quraisy yang merasa aib bila memiliki bayi perempuan hingga harus membunuhnya.
Untuk saat ini, segala gagasan/ide/pandangan yang merupakan akidah kufur harus ditentang dan dijelaskan kebatilannya. Misalnya, sekularisme, pluralisme dan liberalisme merupakan ide yang harus di tentang. Begitu juga gagasan cabang yang lahir darinya seperti demokrasi, hak asasi manusia, kesetaraan gender, dll. Caranya, dengan menjelaskan kebatilan dan bahaya hal-hal tersebut bagi Islam dan umatnya dalam berbagai kesempatan. Bila hal ini dilakukan terus-menerus masyarakat akan dapat memahami mana ide-ide kufur yang berada di tengah umat Islam. Mereka tidak mau diatur oleh sistem tersebut. Sebaliknya, mereka menuntut penerapan Islam.
2. Perjuangan Politik (al-kifah as-siyasi). Aktivitas al-kifah as-siyasi merupakan aktivitas yang ditujukan untuk menyikapi realitas politik kekinian, yang terjadi pada saat tertentu. Pada zaman Rasulullah saw. pernah ada suatu realitas: mengurangi timbangan sudah menjadi kebiasaan. Untuk menyikapi hal tersebut, Allah SWT menurunkan QS al-Muthafifinyang diserukan oleh Rasulullah saw. di tengah masyarakat. Pada saat kaum kafir meminta agar Nabi saw. menunjukkan mukjizat seperti para nabi terdahulu dan meminta agar Nabi saw. berdoa hingga harga yang melambung tinggi menjadi turun, dijawab dengan telak dalam QS al-A'raf [7] ayat 188. Begitu juga kebiasaan mereka menjerumuskan budak wanita dalam pelacuran (semacam trafficking sekarang) disikapi oleh Nabi saw. dengan menyampaikan QS an-Nur [24] ayat 33. Masih banyak peristiwa lain.
Saat ini, setiap kejadian/peristiwa politik kekinian yang bertentangan dengan Islam dan merugikan umat Islam perlu dilakukan kifah siyasi. Misalnya, kelompok Islam harus melakukan aktivitas kifah siyasi pada saat pemerintah menaikkan harga BBM, tarif dasar listrik, mensahkan RUU Kelistrikan, RUU Migas, RUU Sumberdaya Air, RUU Penanaman Modal, dll. Begitu juga saat terjadi peristiwa politik internasional seperti tragedi Mavi Marmara oleh Israel baru-baru ini. Langkahnya dengan membuat tulisan, buletin, pers rilis, delegasi ke DPR, mendatangi menteri, mendatangi Presiden, dll. Lalu dijelaskan bahaya dan kerugian yang akan diderita rakyat serta pertentangannya dengan syariah Islam kepada masyarakat di berbagai forum. Bahkan bila diperlukan dapat dilakukan dengan demontrasi damai (masirah). Dengan ini semua, masyarakat sedikit demi sedikit akan tersadarkan.
3. Membongkar rencana jahat kaum kafir (kasyf al-khuthath). Rasulullah saw. sering menyampaikan wahyu terkait rencana jahat kaum kafir. Sebagai contoh, membongkar rencana tokoh Quraisy (seperti Abu Jahal, Abu Sufyan, Umayyah ibn Khalaf dan Walid bin Mughirah) yang berdiskusi di pusat kajian strategis mereka, Darun Nadwah, dengan memberikan cap negatif pada diri Rasulullah saw.; membongkar persekong-kolan kaum kafir dengan kaum munafik. Allah SWT membongkar rencana jahat ini dalam QS al-Mudatstsir [74] ayat 18-26.
Meneladani hal ini, dalam upaya penegakkan Khilafah, penting untuk membongkar makar negara kafir imperialis dan anteknya. Misalnya, rencana jahat AS di Irak, Afganistan, Pakistan dan Bangladesh perlu dijelaskan kepada masyarakat dalam khuthbah, kuliah subuh, pengajian ibu-ibu, dll. Masyarakat juga perlu dipahamkan tentang hakikat kunjungan Obama ke Indonesia yang hanya ingin lebih mencengkeramkan kakinya di negeri Muslim terbesar ini serta menghalangi bersatunya umat Islam dalam Khilafah; disamping untuk kepentingan minyak, gas, ekonomi, pangkalan militer, dan pembentukan lobi Yahudi-AS di Indonesia. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai seminar, workshop, tablig akbar, dll; juga dengan mengirim delegasi ke ormas, LSM, partai politik, pesantren, DPR, Kementrian Luar Negeri, dll.
4. Penting juga untuk melakukan advokasi bagi kepentingan umat (tabanni mashalih ummah). Caranya, dengan melakukan advokasi bagi kepentingan umat. Misalnya, ketika ada pihak yang ingin melakukan yudisial review UU Penodaan Agama, maka perlu dilakukan perlawanan dengan menjadi pihak terkait dalam sidang di Mahkamah Konstitusi. Ketika terjadi malpraktik maka dapat dilakukan upaya pembelaan terhadap korban. Dilakukanlah advokasi terhadap pihak terkait, termasuk penguasa. Disampaikan solusi menurut Islam. Hal ini dilakukan sedemikian rupa sampai hasil yang diinginkan.
Jika semua aktivitas itu dilakukan secara intensif dan masif maka insya Allah dengan izin Allah SWT taraf berpikir umat akan makin meningkat. Pembelaan dan dukungan terhadap syariah dan Khilafah beserta para pejuangnya akan menggelontor. Sebab, di mata umat makin tampak siapa sebenarnya yang berjuang untuk membebaskan mereka dari penjajahan.

3. Tahap Tiga: Istilam al-Hukmi dengan Dukungan Ahlun Nushrah.
Pada saat kehendak dominan masyarakat menghendaki syariah dan Khilafah, maka masyarakat bersama dengan kelompok pejuang syariah dan Khilafah akan menuntut penguasa agar menegakkan Khilafah atau mundur seraya menyerahkan kepemimpinan kepada mereka. Umat tidak percaya lagi kepada penguasa maupun wakil mereka. Terjadilah kevakuman kekuasaan. Mereka yang terdiri dari tokoh-tokoh berbagai daerah dari berbagai kalangan dan organisasi membentuk semacam ahlul halli wal 'aqdi untuk membaiat khalifah. Bila penguasa secara sukarela menyerahkan kekuasaan atas dasar kesadaran bahwa mereka sudah delegitimasi, tidak lagi dipercaya oleh rakyat, apalagi mereka berubah menjadi mendukung tuntutan masyarakat itu, maka ketika itu terjadilah penyerahan kekuasaan dari rakyat kepada penguasa baru (istilam al-hukmi). Mereka hanya tinggal mengumumkan ke publik, 'Kami mundur dari kekuasaan ini karena sudah tidak lagi dipercaya rakyat sebagai pemilik kekuasaan tersebut.'
Namun sebaliknya, bila mereka tak mau melepaskan kekuasaan kufurnya, lalu menghadapi rakyat sebagai pemilik kekuasaan dengan kekerasan maka di sinilah pentingnya dukungan pemilik kekuatan (ahlul quwwah, ahlun nushrah) terhadap dakwah. Oleh sebab itu, sejak awal perlu adanya dukungan ahlun nushrah.
Mereka yang masuk ke dalam ahlun nushrah adalah setiap pemilik kekuatan, termasuk militer. Dengan adanya dukungan ahlun nushrah penyerahan kekuasaan akan terjadi dengan damai. Begitulah yang dialami oleh Nabi saw. saat menegakkan pemerintahan di Madinah.
Cara untuk meraih dukungan ahlun nushrah tidak lain dengan mendatangi dan mendakwahi mereka. Mereka adalah putra umat Islam. Tengoklah apa yang dilakukan Rasulullah saw. Selain aktif mendakwahi kabilah-kabilah di Makkah, beliau juga mendakwahi kabilah-kabilah di luar Makkah yang datang tiap tahun ke Mekah, baik yang datang untuk berdagang maupun yang hendak melakukan ibadah di sekitar Ka'bah. Beliau berdakwah di jalan-jalan, Pasar 'Ukadz dan Mina. Di antara mereka ada sekelompok orang dari Madinah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka para pemilik kekuatan di sana. Merekalah yang kelak menjadi ahlun nushrah bagi Nabi saw.
Ketika istilam al-hukmi telah terjadi, maka di tengah penguasa yang telah kehilangan legitimasinya, khalifah dengan dukungan rakyat mengumumkan tegaknya Khilafah. Penyelesaian peralihan kekuasaan dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya sesuai dengan realitas politik waktu itu. Dengan teknik seperti ini penegakkan Khilafah akan berjalan secara alami. Wallahu a'lam.

Senin, 07 Juli 2014

Demokrasi yang merusak



Cb brpikir sedikit saja,DEMORASI asasnya dari rakyat,oleh rakyat utk rakyat,dan dianggap suara rakyat suara Tuhan.. innalillahi

jd sama saja artinya selama "rakyat"/lbih tptnya DPR menghendaki menetapkan suatu hukum ga peduli haram sekalipun bs dilegalkan..

pdhal jelas di Quran disebutkan hny aturan Allah (syariat) yg berhak diikuti,kalau tdk maka dsbut fasik,munafik,kafir

yg tjd skrg syariat Islam hny jdi pilihan alternatif,penerapannya pun separuh2,pdhal ktnya mayoritas penduduknya muslim..

skrg pd berharap pd presiden,pdhal siapapun pemimpinnya klo tdk dirubah sistem tak kan bnyk perub berarti,krn kkuasaanny terbatas

smua tdk dbwh presiden: yg buat UU DPR,yg wewenang tangkap koruptor KPK,yg terjmhkan UU adlah MK,priksa uang BPK,priksa rekening PPATK

bahkan hny utk tutup prostitusi Doly saja itu ga bs lsg tp wewenang dari kepala daerah,dan kan lbih susah lg klo beda partai

yg tjd akhirnya lobby2 politik hny utk memutuskan sesuatu yg jelas2 batil.krn mmg sistem demokrasi dibuat spt itu,yg menang para cukong

siapa para cukong? ya pemodal2 berduit yg modalin partai,krn dlm sistem ini utk jadi btuh "modal" yg gede,sdh rahasia umum

lalu mereka mau balikin modal dari mana? dari gaji? tunjangan? klo cm dari sana blm bs nutup modal..

akhirnya partai pun disetir pemodal2,mknya pd tunduk tuh dsuruh A ngikut nurut A, ini nkn hny tjd di indo tp di amerika yg lbih dulu

yaitu para yahudi yg walau jmlhnya sdikit tp bs atur kbijakan amerika krn mrklah pemodal sbnrnya | dari korporasi,utk korporasi

klo hny krn dukungan partai Islam,zaman SBY smua partai Islam koalisi dgnnya tp apa produk dihasilkan? tetep sama syariat ga ditegakkan

pilih yg mudhorotnya pling kcil.kaidah ini hny utk hal yg mubah/boleh saja, ga bs diterapkan utk hal yg haram (demokrasi=rakyat suara tuhan)

klo pake kaidah ini sm aja dgn menghalalkan minyak babi krn kbetulan minyak nabati sedang habis. haram ya haram!

kaidah kondisi darurat hny diperbolehkan utk sst yg benar2 didpn mata antara hidup/mati,kalau tdk dilakukan maka akan mati

jd ga bisa pakai kaidah pilih mudhorot yg paling kecil, ulama yg hanif shrsnya memahami kaidah fiqh ini..

jgn hny terkotak seolah pilihan hny dgn cara pemilu utk perubahan,Rasul pun ditawari kkuasaan jahiliyah beliau menolak tegas

krn perubahan sejatinya spt dicontohkan rasulullah yaitu dgn total brganti syariat Islam,yaitu dgn penyadaran umat,shg rakyat inginkan perub

kita lihat skrg rakyat msih bnyk yg liberal,sekuler bukan bela agamanya tp malah mjd musuh bagi Islam sendiri

inilah tugas kita mlkkn pnyadaran/dakwah shg rakyat sendiri scr mayoritas yg mminta perub,spt saat era orde baru jd era reformasi

smoga rakyat makin tersadarkan shg bersama2 mlkukan perubhan total menuju tegaknya syariat Islam scr kaffah,krn Hkm Allah tak mungkin salah

terbukti 1400 tahun Islam berjaya,kemakmuran,keadilan,keberkahan sebab menerapkan syariat Islam

gaji seorg guru TK saja saat itu setara skrg Rp 35 jt,sampai2 bingung negara utk salurkan zakat krn sudah makmur semua,akhrnya zakat diimpor

1400 tahun tegak berdiri masa terlama dibanding peradaban lain,namun dlm buku sejarah tdk dibahas sbg masa keemasan Islam,sejarah dhilangkan

yg ada ditulis disana hanya sbg "the dark age of europe" atau zaman keelapan eropa. pdhal saat itulah Islam berjaya

namun jgn khawatir sbb janji sesuai hadits bhw jaman kejayaan Islam melalui Ke Khalifahan kan sgera hadir kembali,tanda2 itu telah jelas

pesan kami: jgn terbawa fatamorgana demokrasi,surga itu jmlhnya sdikit dan beruntunglah jd bagian yg sdikit,yg teguh dgn aturan Allah

memilih pemimpin itu wajib,tp pemimpin yg btujuan jelas2 terang2an visinya utk menegakkan syariat Islam scr kaffah,bkn demokrasi yg kufur

Siapa yg mengajak kpd keburukan/jd wasilah (perantara) kpd keburukan dosanya maka sama spt yg melakukan