Sabtu, 18 Oktober 2014

Kaidah mengikuti Ulama dalam menentukan hukum syari

Akhir-akhir ini kita melihat makin hangatnya perbincangan tentang keragaman fatwa fuqaha dalam satu persoalan, antara yang mengharamkan dan menghalalkan. Akibatnya, khalayak mengalami kebingungan: ulama manakah yang harus mereka ikuti pendapatnya; seperti apakah standar yang benar dalam mengambil dan menolak suatu pendapat dari para ulama? Untuk menjawab pertanyaan yang sangat penting ini, kita akan membahas topik ini dari beberapa sisi.

1.       Prinsip yang ditetapkan oleh syariah dalam memahami dan mengamalkan hukum.

Allah SWT telah menyeru setiap Muslim secara langsung untuk memahami nash-nash syariah baik ayat al-Quran ataupun teks-teks as-Sunnah serta mengamalkan tuntutan yang terkandung dalam nash-nash tersebut (Lihat: QS al-Anfal [8]: 20 dan  al-A’raf [7]:3).

Pada prinsipnya nash-nash syariah adalah ungkapan berbahasa Arab yang memiliki dilalah dan makna yang bisa dipahami. Seorang Muslim bisa memahami bahasa al-Quran, yakni bahasa Arab, secara langsung. Dengan itu ia pun bisa langsung memahami seruan Asy-Syari’ dari nash-nash tersebut dan mengamalkan tuntutan yang ada di dalamnya. Hal seperti ini telah dipraktikkan oleh para sahabat Rasulullah saw. Itulah prinsip dalam persoalan ini bagi setiap Muslim.

Dr. Abdul Karim Zaidan menyatakan dalam kitabnya, Al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh:

Setiap mukallaf harus menaati Allah dan Rasul-Nya tanpa kecuali.Kewajiban ini tentu menuntut mereka untuk mengetahui perkara yang disyariahkan Allah SWT baik yang termaktub dalam al-Quran ataupun yang terangkai dalam ucapan Rasulullah saw. Mengetahui perkara yang disyariatkan Allah SWT dilakukan dengan merujuk pada nash-nash al-Quran dan as-Sunnah, mengambil hukum dari keduanya setelah memahami nash-nash tersebut dan mengetahui maksud yang terkandung di dalamnya. Jika seorang mukallaf tidak menemukan hukum secara jelas dalam nash-nash tersebut, baru dia beralih pada ijtihad sebagaimana yang diperintahkan oleh syariahLalu berijtihadlah dia dalam koridor yang ditetapkan syariah. Inilah jalan yang lurus untuk mengetahui dan mengamalkan hukum-hukum (Al-Wajiz, hlm. 411).

Hanya saja, kebanyakan kaum Muslim kesulitan melakukan itu. Hal ini bisa disebabkan mereka tidak mengetahui bahasa Arab atau kurang mengetahui makna-maknanya secara mendalam, khususnya setelah banyak kesalahan dalam tata bahasa dan khalayak sudah tidak mengetahui lagi bahasa Arab yang baik dan benar (fushha). Mereka yang seperti ini membutuhkan orang lain yang lebih memahami nash-nash syariah. Hal seperti itu dibolehkan di mata syariah dengan sejumlah patokan tentunya.

Dulu, sekelompok sahabat Rasulullah saw. saling bertanya satu sama lain tentang beberapa persoalan tertentu yang memang cukup sukar untuk mereka pahami. Rasulullah saw. telah menyebutkan bertingkatnya pemahaman para sahabat terhadap nash-nash syariah. Rasulullah saw. bersabda, “Di antara umatku, orang yang paling sayang kepada umatku adalah Abu Bakar; orang yang paling ketat dalam masalah yang ditetapkan Allah adalah Umar; orang yang paling pemalu adalah Utsman; orang yang paling mahir dalam membaca Kitabullah adalah Ubay bin Kaab; orang yang paling memahami hukum faraidh adalah Zaid bin Tsabit; orang yang paling tahu halal-haram adalah Muadz bin JabalSetiap umat memiliki orang kepercayaan dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR at-Tirmidzi).

Abdul Karim Zaidan mengatakan:

Jika seorang mukallaf tidak mampu mengetahui hukum-hukum melalui cara ini (yakni berijtihad sendiri), dia harus bertindak seperti apa yang diperintahkkan Allah SWT, yakni dia harus bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan tentang hukum Allah dalam persoalan yang ingin diketahui status hukumnya itu. Allah SWT berfirman dalam QS an-Nahl ayat 43 (yang artinya): Bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak tahu (Al-Wajiz, hlm. 411).

2.       Perbedaan pendapat dan keragaman fatwa yang dibolehkan dan yang diharamkan.

Sesungguhnya perbedaan pendapat yang terjadi di antara para sahabat Rasulullah saw. dan diakui oleh beliau adalah dalam persoalan yang memungkinkan adanya keragaman pemahaman terhadap suatu makna. Rasulullah saw., misalnya, bersabda, “Janganlah seorang pun shalat Ashar kecuali di Banu Quraidhah.” (HR al-Bukhari dari Ibnu Umar). Para sahabat Rasulullah saw. berbeda pendapat dalam menyikapi perintah ini: sekelompok sahabat melaksanakan shalat di perjalanan;  sekelompok lainnya tidak melakukan itu karena berketetapan hendak shalat di perkampungan Banu Quraidzah. Rasulullah saw. mengakui dua pemahaman ini dan memujinya (Lihat: Ibnu al-Qayyim, I’lam al-Muwaqi’in, 1/203).

Jika nash syariah mengandung keragaman pemahaman maka perbedaan pendapat dalam hal itu dibolehkan. Lain halnya dengan perkara yang qath’i maknanya dan tidak mengandung makna ganda. Perbedaan pendapat di dalamnya adalah diharamkan. Misalnya firman Allah SWT (yang artinya): Dirikanlah shalat (TQS al-Baqarah [2]: 43); Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman(TQS al-Baqarah [2]: 278).

Imam al-Mazari menyatakan dalam kitabnya, Idhah al-Mahshul min Burhan al-Ushul, bahwa nash yang tidak memberikan ruang ijtihadadalah teks yang menunjukkan hukum dengan jelas (sharih), disampaikan dalam redaksi yang tidak mengandung kemungkinan lain(Al-Idhah, hlm. 305).

Al-Asnawi menyatakan dalam kitab Nihayat as-Sul, “Hukum yang memberikan ruang ijtihad adalah hukum syariah yang bersifat zann menurut syariah. Karena itu keharaman zina dan meminum khamar serta seluruh persoalan agama yang mutlak (dharuri) berada di luar ruang ijtihad.” (Nihayat as-Sul, 4/530).

3.       Standar syariah dalam memberikan pendapat syar’i atau fatwa.

Beberapa standar syariah yang terpenting adalah:

1)       Pendapat tersebut lahir dari dan berpijak pada nash syariah berupa al-Quran dan as-Sunah yang sahih, dan dalil yang ditunjukkan oleh keduanya yakni Ijmak Sahabat dan Qiyas. Siapa saja yang memberikan pendapat syariah maka dia harus mengetahui nash-nash syariah, Ijmak Sahabat dan Qiyas; mengetahui nash-nash yang me-nasakh dan yang di-mansukh; mengetahui tatacara pen-tarjih-an jika ada dua nash yang jelas-jelas bertentangan, sama saja apakah dua nash ini adalah hadis dengan hadis, atau hadis dengan al-Quran (Lihat: Abdul Karim Zaidan, Al-Wajiz, hlm. 402-405).

2)       Harus memahami fakta dengan pemahaman yang tepat dan cermat agar bisa menurunkan nash yang cocok pada fakta tersebut. Karena itu nash-nash yang bercerita tentang  makanan dan minuman yang sangat urgen (dharurat) tidak bisa diturunkan pada kebutuhan-kebutuhan lain yang tidak sampai pada taraf urgen, misalnya mengambil riba untuk membeli mobil dan menganggap itu sebagaidharurat syar’I; hal seperti ini menyalahi metode menurunkan nash-nash terhadap faktanya.

Dalam persoalan maslahat, Allah SWT sajalah yang menetapkan kemaslahatan para hamba, bukan akal manusia, karena akal itu bersifat kurang dan tidak mampu untuk mengetahui segala yang bermanfaat dan yang menimbulkan madarat (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 216).

3)       Pendapat tersebut tidak boleh menyalahi nash atau pendapat yang jelas-jelas shahih, yang berasal dari al-Quran dan as-Sunnah. Tidak ada ruang ijtihad dalam perkara yang sudah ditetapkan oleh nash yang sharih. Jika sebuah ijtihad menyalahi pendapat yang sharihmaka pendapat tersebut harus dibuang jauh-jauh. Imam an-Nawawi berkata, “Seorang mufti dan qadhi tidak perlu menghiraukan orang yang menentang dirinya jika memang dirinya tidak menyalahi nash, Ijmak atau Qiyas Jali (Syarh Shahih Muslim, hlam. 2/24).

4.       Tarjih di antara sejumlah pendapat yang berbeda-beda.

Tarjih itu jika dilakukan oleh orang yang mampu mengkomparasikan sejumlah nash, atau mengetahui ilmu pengetahuan syar’i, yang memungkinkan dia mengamalkan dalil, meninjaunya dan men-tarjihsalah satu dari dua dalil, maka harus didasarkan pada qarinah tertentu. Misalnya, ketika memperhatikan dua pendapat, orang tersebut melihat salah satu pendapat berpijak pada hadis dha’if, maka dia akan meninggalkan pendapat tersebut dan men-tarjih pendapat yang lain. Contoh lain: orang tersebut memperhatikan dua pendapat, lalu melihat bahwa salah satu pendapat berpijak pada nash yang sudah di-nasakh, maka dia meninggalkan pendapat tersebut dan mengikuti pendapat yang kedua. Al-Juwaini berkata, “Tarjih itu adalah memenangkan sebagian amarat atas sebagian yang lain secara dzanni.(Al-Burhan, 2:175).

Jika tarjih dilakukan oleh orang awam, itu harus dilakukan dengan tidak menuruti hawa nafsu, misalnya karena pendapat tersebut lebih mudah atau di dalamnya ada maslahat. Tarjih-nya harus berpijak pada dua perkara: (1) faktor lebih mengetahui; yakni dengan mendengar dari orang-orang bahwa si alim fulan itu lebih mengetahui dari yang lain; (2) faktor ketakwaan; ini juga dengan cara mendengar dan menelusuri hal-ihwal ketakwaan dan kewaraan si alim ini. Sirajudin al-Armawi menyatakan dalam kitab at-Tahshil min al-Mahshul, “Meminta fatwa tidak boleh dilakukan kecuali dari orang yang diduga kuat sebagai mujtahid dan wara.”  (2/305).

Al-Khudhari berkata dalam kitab Al-Ushul, “Meminta fatwa tidak boleh dilakukan kecuali dari orang yang diketahui sebagai orang yang berilmu dan bersifat adilSiapa saja yang diketahui tidak memiliki salah satu dari dua sifat ini, maka biasanya dia tidak boleh diikuti.” (hlm. 382).

Karena itu fatwa tidak boleh diambil misalnya dari orang yang terkenal suka canggung terhadap para pelaku kezaliman dan kefasikan, juga dari orang yang suka duduk-duduk dengan mereka karena ketakwaan orang seperti itu diragukan (Lihat: QS al-An’am [6]: 68 dan an-Nisa’ [4]: 140).

Rasulullah saw. bersabda, “Setelahku nanti akan ada para pemimpin; siapa saja yang suka menemui mereka, membenarkan kedustaan mereka, membantu mereka melakukan kezaliman, maka orang itu tidak termasuk golonganku, aku bukan termasuk golongannya, dan dia tidak akan datang kepadaku di telaga.” (HR al-Hakim).

Fatwa juga tidak boleh diambil dari orang yang suka berubah-ubah dalam berfatwa sesuai dengan hawa nafsu dan kepentingan (Lihat: QS Shad [38]: 26).

5.       Pendapat waliyul amri dalam pen-tarjih-an.

Para khalifah radhiyalLahu anhum telah mengadopsi satu pendapat syariah dalam sejumlah persoalan yang diperselisihkan yang dengan itu bisa membentuk dan menjaga persatuan kaum Muslim. Misalnya, selama masa kekhilafahannya, Abu Bakar mengikuti pendapat jatuhnya talak tiga sekaligus; Umar mengambil pendapat yang berbeda dengan pendapat Abu Bakar ketika dia (Umar) memegang jabatan khilafah (tiga talak sekaligus tetap dipandang jatuh satu talak,red.). Abu Bakar juga dalam posisinya sebagai waliyul amri telah mengambil pendapat untuk membagikan fai dan ghanimah berupa tanah untuk tentara yang ikut berperang. Sebaliknya, Umar mengambil pendapat yang berbeda dengan bersandar pada nash syariah, yakni firman Allah SWT dalam surat al-Hasyr: 10).

Seorang waliyul amri boleh mengikuti satu pendapat dalam pen-tarjih-an, kemudian memberlakukan pendapat tersebut kepada seluruh kaum Muslim untuk menyatukan pendapat mereka dengan pendapatnya ini. Syarat waliyul amri yang memiliki wewenang seperti itu adalah orang yang benar-benar mengurus urusan kaum Muslim, yakni amirul mukminin, atau khalifah kaum Muslim. Ketaatan kepadawaliyul amri ini dikaitkan dengan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 59). Disyaratkan pula agar terpenuhi sifat waliyul amri dari sisi bahwa dia diserahi urusan kaum Muslim melalui metode yang sah menurut syariah. Juga disyaratkan agar dia adalah seorang Muslim yang telah memenuhi syarat-syarat in’iqad yang sah menurut syariah.

Imam al-Qarafi menyatakan dalam kitab Anwar al-Buruq fi Anwa’ al-Furuq, “Seorang imam ketika memegang otoritas publik terhadap rakyatnya, diharuskan untuk mencegah timbulnya ketidakharmonisan dan pertentangan serta menghilangkan perbedaan di tengah-tengah umat. Inilah salah satu kewajiban terpenting yang dia tanggung.”(2/103).

Inilah uraian singkat mengenai tatacara mengambil pendapat yangsyar’i.  Seorang Muslim harus memperhatikan betul dari siapa dia mengambil agamanya. Ingatlah, setiap orang akan berdiri di hadapan Allah SWT dan akan ditanyai tentang segala sesuatu baik yang besar ataupun yang kecil. Ketidaktahuannya tidak bisa dijadikan alasan karena dia telah diwajibkan untuk bertanya kepada orang yang tahu dari kalangan orang bertakwa dan berilmu (Lihat: QS an-Nahl [16]: 43).

Kami memohon kepada Allah SWTagar kami termasuk orang yang mendengarkan pendapat dan kemudian mengikuti pendapat terbaik. Akhir doa kami adalah pujian bagi Allah, Tuhan semesta alam. [Hamad Thabib-Baitul Maqdis]; [Diterjemahkan dan disarikan oleh Dede Koswara, Staff Pengajar Ma’had al-Abqary Serang]

 

Senin, 29 September 2014

4 Golongan Lelaki Yang Akan Ditarik Masuk Ke Neraka Oleh Wanita

4 Golongan Lelaki Yang Akan Ditarik Masuk Ke Neraka Oleh Wanita 

1. Ayahnya.Jika seseorang yang bergelar ayah tidak mempedulikan anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajarkan shalat, mengaji, dan sebagainya. Dia membiarkan anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dangan hanya memberi
kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya. Duhai lelaki yg bergelar Ayah, bagaimanakah keadaan anak perempuanmu sekarang? Apakah kau
mengajar shalat dan shaum (puasa) padanya?
Menutup aurat? Pengetahuan agama? Jika tidak terpenuhi, maka bersedialah untuk menjadi bagian dari Neraka.

2. Suaminya.Apabila suami tidak mempedulikan tindak tanduk
isterinya. Bergaul bebas. Membiarkan istri berhias diri untuk lelaki yang bukan mahramnya. Jika suami mendiam istri yang seperti itu walaupun suami adalah orang yang alim, suami adalah shalatnya yang tidak pernah bolong, suami adalah yang shaumnya tidak pernah lalai. Maka dia akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dalam
Neraka.Duhai lelaki yang bergelar Suami, bagaimanakah keadaan istri tercinta sekarang? Dimanakah dia? Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau jaga mengikuti ketetapan Islam, maka terimalah keniscayaan yang kau akan sehidup semati bersamanya hingga Neraka.

3. Saudara Lelakinya.Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga kehormatan wanita jatuh pada saudara
lelakinya (kakak,adik, paman). Jika mereka hanya
mementingkan keluarganya saja dan adik atau
keponakannya dibiarkan dari ajaran Islam, maka tunggulah tarikan mereka di akhirat kelak. Duhai lelaki yg mempunyai saudara perempuan,jangan hanya menjaga amalmu dan melupakan
amanah yang lain. Karena kau juga akan
pertanggungjawabkan diakhirat kelak.

4. Anak Lelakinya.Apabila seorang anak laki-laki tidak menasehati Ibunya perihal kelakuan yang tidak dibenarkan dalam Islam. Bila ibu membuat kemungkaran, mengumpat, memfitnah, mengunjing, maka anak itu
akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban

Minggu, 14 September 2014

Tahu belum tentu paham

1.Pabila benar sdh paham seorg anak kan tahu scr pasti dan yakin bahwa dlm ilmu pasti 4x4=16

2.Namun pabila blm paham krn hny berupa hapalan,ketika lupa ditanya 4x4 bisa jwbannya 12

3.Artinya tingkat pemahaman akan menghasilkan suatu jwban benar atau salah

4. Begitu jg dlm hidup ini krn pemahaman yg salah dpt menghasilkan suatu pemikiran & tindakan yg salah

5.Kita tau bhw diciptakan oleh Allah SWT utk beribadah (taat) kpd-Nya,& kita tlah dptkan informasi bhw stelah kematian ada akhirat yg abadi

6.Namun kita hny tau tanpa ada pemahaman disana, spt sebuah hapalan saja..

7.Spt contoh anak SD tadi supaya tdk jd hapalan bagaimana? ya betul dgn belajar..

 8. Begitu jg utk menjwb pertanyaan mendasar bhw utk apa sbnrny kita diciptakan didunia apkah utk cari harta sbnyk2nya

9.apakah didunia utk meraih kenikmatan yg tiada habis2nya dgn menghindari kesulitan2/sengsara demi mmuaskan hasrat jiwa

10.Trnyata didunia itu utk meraih bekal pahala yg bnyk,serta dgn menjauhi dari perbuatan2 dosa,spy timbangan baik lebih berat

 11.Lalu bgmn bisa tau misal riba itu dosa besar,ghibah dosa besar,tak berhijab syari itu bisa haram bau surga,durhaka itu dosa besar,dsb

12.dan bgmn bs tau cara meraih amalan pahala tertinggi,apkah ckup dgn sedekah,ckup dgn shalat 5 waktu,ckup dgn puasa,ckup dgn haji,dsb

13.taukah amalan pahala tertinggi apa yg pahalanya spt penghulu (pemimpin) para syuhada (org yg mati syahid)

14. utk menjwb smua prtanyaan itu dan memahami ttg arti kehidupan diperlukan adanya ilmu #YukNgaji

15.Supaya tdk sekedar tau,tp paham shg tercapai kesuksesan hidup didunia & akhirat #YukNgaji http://t.co/rlKlxzBDQg  http://t.co/qWjUy3gecb

Senin, 08 September 2014

4 Perkara Penghancur Agama

Semoga bermanfaat..???

⚡⚡⚡⚡⚡⚡⚡

Empat Perkara Penghancur Agama
Hancurnya agama Anda, kata Syaikh
Abdul Qadir Jailani, adalah karena 4
hal: (1) Anda tidak mengamalkan
apa yang Anda ketahui; (2) Anda
mengamalkan apa yang Anda tidak
ketahui; (3) Anda tidak mencari
tahu apa yang Anda tidak ketahui;
(4) Anda menolak orang yang
mengajari Anda apa yang tidak Anda
ketahui (Jailani, Al-Fath ar-
Rabbani wa Faydh ar-Rahmani, hlm.
43.Beirut: 1998).
1. Tidak mengamalkan apa yang
diketahui.
Allah Swt. telah mencela orang yang
banyak tahu agama, bahkan banyak
ngomong masalah agama, tetapi
tidak melaksanakan apa yang dia
ketahui dan sering dia diomongkan:
Sungguh besar kebencian Allah
karena kamu mengatakan apa yang
tidak kamu kerjakan (TQS ash-
Shaff [61]: 3).
Lebih dari itu, banyak tahu agama
tetapi tidak mengamalkannya adalah
sia-sia. Sebabnya, Allah Swt.
menilai seseorang bukan dari
ilmunya (yang banyak), tetapi dari
amalnya: (Dialah Allah) Yang
menciptakan kematian dan
kehidupan dalam rangka menguji
manusia, siapa yang terbaik
amalnya(TQS al-Mulk [67]: 2).
Dalam ayat ini, Allah menggunakan
frasa ahsanu-’amala (amal
terbaik), bukan aktsaru-’ilma (ilmu
terbanyak). Maknanya,
sebagaimana kata Nabi saw.,
“Selalu waspada (wara’) terhadap
larangan-larangan Allah dan
senantiasa bersegera menjalankan
ketaatan kepada-Nya.” (Al-
Qurthubi,Tafsir al-Qurthubi,
XVIII/207).
Karena itu, sangat disayangkan
jika orang banyak tahu agama
tetapi sedikit mengamalkan
agamanya. Misal: Masih banyak
Muslim yang tahu bahwa shalat,
shaum dan zakat itu wajib, namun
mereka tidak melaksanakannya.
Banyak Muslimah yang tahu menutup
aurat/berjilbab itu wajib, tetapi
enggan melakukannya. Banyak
pejabat, pegawai pemerintah,
polisi, jaksa, hakim dll yang tahu
suap dan korupsi itu haram/dosa,
namun mereka tetap melakukannya.
Banyak Muslim yang tahu bahwa
menegakkan syariah Islam itu
wajib, tetapi tidak berusaha
memperjuangkannya, seolah-olah
itu bukan urusannya. Banyak ulama
yang tahu menegakkan Khilafah itu
wajib. Mereka pun tahu kewajiban
menegakkan Khilafah itu merupakan
Ijmak Sahabat dan ijmak para ulama
salafush-shalih. Namun, alih-alih
berusaha menegakkannya, bahkan
ada yang menganggap upaya
tersebut tidak relevan untuk saat
ini, ’memecah-belah’, ’mengancam’
NKRI, dll. Banyak tokoh kiai yang
tahu bahwa riba itu haram tetapi
tidak pernah mencegah Pemerintah
yang nyata-nyata berutang ke luar
negeri dengan bunga (riba) yang
sangat ’mencekik’. Banyak pula
aktivis dakwah yang tahu menjaga
amanah dan memelihara akad itu
wajib, tetapi sering melalaikan dan
mengabaikannya.
2. Mengamalkan apa yang tidak
diketahui.
Tidak sedikit orang yang awam
agama melakukan banyak hal yang
dia sendiri tidak tahu status
hukumnya; apakah halal atau
haram. Misal: Tidak sedikit Muslim
berbisnis saham/valas, melakukan
transaksi kredit barang lewat
lembaga leasing seperti menjamur
saat ini, terlibat dalam bisnis
asuransi, menjadi staf keuangan
bank berbasis riba, mengadu untung
dalam kuis via sms, dll. Tidak sedikit
Muslim/Muslimah yang memandang
baik profesi sebagai artis
(penyanyi, penari, pemain film/
sinetron dll)—yang biasanya akrab
dengan atraksi membuka aurat,
berkhalwat dan ber-ikhtilat, serta
ragam maksiat lainnya; bahkan
mereka berlomba-lomba meraihnya.
Tidak sedikit pula Muslim yang
memandang mulia demokrasi dan
HAM, mempraktikkannya, bahkan
bangga menjadi pejuangnya. Semua
itu mereka lakukan karena mungkin
tidak tahu keharamannya. Padahal
Rasulullah saw. telah bersabda
(yang artinya), “Siapa saja yang
mengerjakan suatu perbuatan yang
tidak kami perintahkan, maka
tertolak(haram, pen.).” (HR
Muslim).
3. Tidak mencari tahu apa yang
tidak diketahuinya.
Banyak Muslim/Muslimah yang sadar
dirinya awam dalam agama, tetapi
tidak terdorong untuk mempelajari
dan mendalami agama (taffaquh fi
ad-din). Mereka seolah enjoy
dengan kebodohannya dalam agama.
Tidak sedikit pula hal ini melanda
para aktivis dakwah. Misal: tidak
sedikit aktivis dakwah yang malas
belajar bahasa Arab, padahal
mereka tahu mempelajarinya
sangat urgen dalam upaya
memahami agama demi bekal dakwah
mereka; bahkan mereka tahu di
antara faktor kemunduran umat
adalah karena diabaikannya bahasa
Arab.
4. Menolak orang yang mengajari
apa yang tidak diketahuinya.
Tidak sedikit Muslim yang—karena
kesombongannya—menolak ketika
orang lain mengajari (baca:
mendakwahi)-nya. Padahal
Rasulullah saw. telah bersabda
(yang artinya), “Sombong itu
menolak kebenaran.” (HR Muslim
dan Abu Dawud).
Tidak sedikit pula yang enggan
belajar kepada    lain hanya
karena orang lain itu lebih muda,
karena lebih rendah tingkat
pendidikan formalnya, karena dari
kelompok/mazhab/harakah/partai
yang berbeda, atau karena faktor-
faktor lain.
******
Keempat hal di atas memang telah
menghancurkan agama pada diri
seorang Muslim ataupun di tengah-
tengah masyarakat.
Akibatnya nyata: Hukum-hukum
Allah dicampakkan dan dijauhkan.
Hukum-hukum thaghut diterapkan
dan dilestarikan. Kewajiban-kewaj
iban agama banyak ditinggalkan.
Larangan-larangannya sering
dilakukan dan bahkan jadi
kebiasaan. Yang halal
disembunyikan. Yang haram
ditonjolkan. Yang sunnah enggan
diamalkan. Yang bid’ah malah
dibesar-besarkan. Adat menjadi
ibadat. Ibadat bercampur dengan
khurafat dan maksiat.
Demikianlah, akhirnya Islam
sekadar sebutan; al-Quran sekadar
jadi bacaan; as-Sunnah pun
terlupakan.
Saat itu, sebagaimana isyarat Nabi
saw., Islam kembali menjadi
sesuatu yang asing, persis
sebagaimana awal kedatangannya.
Sabda Nabi saw. “Islam mulanya
datang sebagai sesuatu yang asing
dan nanti akan kembali dianggap
asing. Berbahagialah orang-orang
yang dipandang asing, yakni mereka
yang selalu melakukan perbaikan-
perbaikan di tengah-tengah
masyarakat yang berlomba-lomba
melakukan kerusakan-kerus
akan.” (HR Ahmad).
Wama tawfiqi illa bi[disingkat oleh WhatsApp]

Kelezatan maksiat dan taat

#Kelezatan Maksiat dan Taat

al-Hafidz Ibn al-Jauzi, dalam kitabnya, Shaid al-Khathir, menuturkan bahwa andai saja orang yang melakukan maksiat menyadari, betapa kenikmatan maksiat itu hanya sesaat, kemudian setelah itu dia merasakan akibat kemaksiatannya, yaitu kemurkaan Allah, dosa dan siksa-Nya, maka orang itu tidak akan sanggup melakukan maksiat. 

Namun, yang terjadi adalah, orang itu terpesona dengan kenikmatan sesaat. Betapa tidak, orang berzina, hanya bisa merasakan nikmatnya zina saat ... (-terpenuhi-) kepuasan seksualnya. Itu pun tidak lama, tetapi setelah itu dia menderita. Bahkan, aibnya pun tak terperi. Terlebih, jika zinanya itu menghasilkan anak haram, maka beban itu akan ditanggung seumur hidup.

Tetapi, ada orang yang melakukan maksiat, berzina dan berzina, mencuri dan mencuri, makan riba dan makan riba, anehnya tetap merasa tidak ada masalah. Baginya, kemaksiatannya itu tidak ada dampaknya secara nyata dalam hidupnya. Dia pun enjoy menikmati hidup bergelimang maksiat. Apa yang sesungguhnya terjadi pada orang seperti ini? 

Ibn al-Jauzi memberikan jawaban, "Kemaksiatan itu diganjar dengan kemaksiatan." maksudnya, ketika orang melakukan satu maksiat, lalu diikuti maksiat berikutnya, maka kemaksiatan berikutnya itu sesungguhnya adalah siksa Allah, tetapi dia tidak merasa, bahwa dia sedang disiksa oleh Allah. Sebaliknya, "Kebaikan setelah kebaikan adalah pahala bagi kebaikan itu." 

Orang yang melakukan maksiat, terkadang tidak merasa dirinya melakukan maksiat. Padahal, dampak maksiatnya itu membuat hatinya tidak lagi merasakan nikmatnya ketaatan. Dia shalat dan berdoa pun tidak bisa khusyu'. Shalat dan doanya pun kehilangan ruhnya, akibatnya shalat dan berdoa, tetapi tidak ada pengaruhnya. 

Bagi orang seperti ini, kelezatan munajatnya hilang. Kelezatan shalatnya hilang. Kelezatan membaca al-Qur'annya hilang. Kelezatan mengajinya hilang. Dia pun lama kelamaan akan malas munajat, karena tidak merasakan lagi nikmatnya munajat kepada Allah.

Minggu, 07 September 2014

Panjang angan-angan

" Sesungguhnya ada hal yang paling aku khawatirkan atas kalian, yakni mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. >  Mengikuti hawa nafsu bisa mengakibatkan menyimpang dr kebenaran,panjang angan2 bisa menjadikan org lupa akan akhirat.” (HR. al-Baihaqi)

1/4 Al-Manawi dalam at-Taisir bi Syarhil Jaami’ ash-Shaghiir berkata, “Antara cita-cita dan angan-angan itu berbeda.

2/4 Barangsiapa yang tidak mengolah tanah, tidak menaburinya dengan benih, namun dia menunggu datangnya panen,..

3/4 maka dia hnylah pengandai yg terpedaya & bkn org yg bercita2,Krn org yg bercita2 itu adlh org yg mengelola tanah,menaburinya dgn benih,

4/4 mengairinya dgn air & melakukan sebab2 yg logis utk ikhtiar,selebihnya berharap kpd Allah terhindar dr hama & memberikan karunia panen"

Sebab2 logis disinilah adalah bagian dari ikhtiar/usaha. Yaitu tentunya ikhtiar yg di ridhoi Allah,bkn yg halalkan segala cara

 Ikhtiar yang di ridhoi yaitu yg sesuai aturan-Nya (syariat), sesuai apa yang dijelaskan dalam Al Quran dan As-Sunnah (Hadits)

Jumat, 05 September 2014

Ingin bangsa maju? tegakkan syariat

@Pejuang__Allah

Putuskan setiap perkara menggunakan hukum Allah yg terbukti kebenarannya,bukan hukum manusia yg terbatas & bisa diakali

"Apakah hukum Jahiliyah yg mrk kehendaki,& (hukum) siapakah yg lebih baik daripada (hukum) Allah bagi org2 yg yakin?” (QS Al Maidah ayat 50)

Tak bisa dipungkiri skrg kita hidup dijaman jahiliyah (kebodohan) moderen. Yg halal bisa diharamkan,yg haram bisa dihalalkan oleh negara

Prostitusi,Miras yg jelas2 haram saja bisa dilegalkan di negeri ini.Manusia yg buat UU sdh spt tuhan yg berani rubah ketetapan Allah

Beberapa jenis SDA yg jelas ssuai Hadits adlah hak rakyat utk digunakan kemaslahatan umat saat ini malah diberikan asing

Ajaran Islam itu sempurna yg mrpkn Rahmat semesta alam,mengatur dari hal kecil spt duri sampai yg besar spt negara

 "..Dan Kami trunkan kpdmu Kitab(Al Quran) utk menjlskan SGALA sst &petunjuk serta rahmat &kabar gembira bagi org2 yg brserah diri"An-Nahl:89

Riba yg jelas keharamannya dan DOSA BESAR saja malah dilegalkan bahkan diwajibkan bagi setiap pendirian bank

Putuskanlah menurut yg Allah perintahkan,mrpkn petunjuk jalan yg lurus..Jgn salah jalan yg berakhir penyesalan..

Hijab yg mrpkn kewajiban setiap muslimah saja bs dilarang oleh lembaga polri kpd anggotanya.yg shrusnya sbg pelindung malah tdk melindungi

"Aku telah meninggalkan dua perkara yang menyebabkan kalian tidak akan sesat selamanya selama kalian berpegang teguh pada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya." (HR at-Turmudzî, Abû Dâwud, Ahmad).

 "Jgnlah kalian berdusta dgn sbb apa yg disifatkan oleh lidah kalian,"Ini halal & ini haram,”utk mengada2kan sst yg dusta.."QS an-Nahl:116

Kaidah hkm:
[اَلأَصْلُ فِي اْلأَفْعَالْ التَّقَيُدُ بِاْلأَحْكَامِ الشَّرْعِيَةِ]
Hukum asal perbuatan manusia adlh terikat dgn hkm syariat

حَيْثُمَا كَانَ الشَّرْعُ فَثَمَّتِ اْلمَصْلَحَةُ]
Di mana pun ada syariat, di situ pasti ada maslahat.

Demokrasi bisa mengharamkan yg halal,menghalalkan yg haram | begitu banyak ketetapan Allah diganti seenaknya http://t.co/cRuFPBVlTS

Islam datang dlm keadaan asing dan akan kembali dlm keterasingan,beruntunglah org2 yg asing (sedikit) tersebut..

Dlm demokrasi suara terbanyak dianggap suara yg wajib djdikan ketetapan/UU tak peduli itu suatu hal yg dibolehkan/dilarang syariat

 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. 7:96)

Inilah salah satu sebab negeri ini tak kunjung makmur sejahtera berlimpah,sebab aturan2 yg dibuat membuat rakyat tdk jlnkan perintah Allah

org lebih takut tdk pakai helm saat berkendaraan motor krn bisa dpt sanksi,dibanding takut krn tdk sholat,sbb negara tdk menjaga hal tsb

Pdhal negara bs makmur berkah melimpah jg dipengaruhi manusia2 didlmnya,kalau isinya org2 ahli maksiat bgmn Allah ridho?

"Tidaklah suatu kaum yang ditengah-tengah mereka dilakukan kemaksiatan-kemaksiatan. Sedang mereka mampu mencegahnya Tetapi tidak Mau mencegahnya. Melainkan Allah akan menimpakan adzab secara merata kepada mereka. " HR Abu Dawud

Rubah sistem dmn syariat Islam bukan lg mjd pilihan alternatif berdasar suara trbnyk,tp jdkan Islam satu2nya pilihan dgn jlnkan syariatNya

Ya kita tdk biasa mendengarny krn mmg musuh2 Islam sangat menutupi takut Islam bangkit kembali,pdhal ini dicontohkan dr sjak zman Rasulullah

Pahami,pelajari,hayati dan jujur kpd suara hati ttg kebenaran hakiki.. InsyaAllah kan mengerti