Selasa, 05 Agustus 2014

ukhti aku cemburu padamu


UKHTI AKU CEMBURU PADAMU

Ukhti aku cemburu padamu..
Saat kau marah kau mampu memadamkan amarahmu..
Dan kau memilih menyimpannya daripada meluapkannya..
Padahal ku tahu saat itu hatimu sedang terluka..

Ukhti aku cemburu padamu..
Saat mereka jalan-jalan, kau habiskan waktumu untuk hal yang berguna..
Kau tak hiraukan ajakan mereka dan kau sibukkan dirimu dengan cinta ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala dan cinta Rasulullah SAW.

Ukhti aku cemburu padamu..
Ketika mereka berkata dengan emosi yang meledak-meledak dengan nada ancaman dan kasar..
Tapi kau balas dengan penuh kasih sayang..
Kau tetap jalin persahabatan dan pertemanan..

Ukhti aku cemburu padamu..
Setiap hari kau panjangkan jilbabmu..
Kau tebarkan senyum semangatmu..
Padahal kau tahu saat itu mereka berbisik-bisik tentang perubahanmu itu..

Ukhti aku cemburu padamu..
Aku cemburu dengan diammu..
Dengan tunduknya pandanganmu saat kau berhadapan dengan yang bukan muhrimmu..
Kau hanya bicara seperlunya saja..
Karena kau takut pada fitnah dunia..

Ukhti aku cemburu padamu..
Disaat mereka semua sibuk ber-sms ria dengan canda dan perhatian..
Tapi kau dengan tegas tidak memperdulikannya..
Karena kau percaya jodoh itu ada pada_Nya..
Tanpa sms riapun jodoh pasti akan datang..
Kerana kau tahu cinta seharusnya datang karena ALLAH..
Bukan karena bersms ria..

Ukhti aku cemburu padamu..
Aku cemburu dengan keta’atanmu pada Rabb kita..

Aku cemburu saat kau bisa melakukan hal yang DIA senangi dan meninggalkan segala hal yang DIA benci..

Ukhti sungguh aku cemburu padamu..
Rabbi pasti sangat menyayangimu ukhtii..
IA pasti sangat mencintaimu..
Karena keta’atanmu pada_Nya..

Ukhti..
Darimu aku banyak belajar arti hidup..
Iyaa tentang hidup..

Karena kepuasan hidup bukan didapat saat segala hal yang kita ingin bisa terpenuhi, tapi tentang kepuasan saat kita bisa melawan bisikan-bisikan setan..

♥ Muhammad Arbi Al-Zulkifli ♥


Kamis, 31 Juli 2014

Persatuan umat dengan Khilafah

Boleh semarakkan hari kemenangan krn mmg ini salah satu dari 2 hari yg patut dirayakan (Idul Fitri dan Idul Adha)

Meskipun gembira dan sukacita, namun kegembiraan kita tidaklah sempurna krn berbagai peristiwa menyedihkan menimpa umat Islam di dunia

Bagaimana kita bisa bergembira sementara saudara2 kita di Gaza-Palestina dibombardir dgn aneka senjata pemusnah oleh tentara2 zionis

Palestina bukanlah satu-satunya. Di Suriah, hingga kini umat Islam harus menghadapi keganasan penguasanya sendiri, Basyar Asad.

Sementara Irak dan Afghanistan masih berada di bawah penjajahan negara imperialis, Amerika Serikat.

Kondisi menyedihkan jg dialami saudara2 kita di Pattani Thailand,Moro Philipina Selatan,Kashmir,Rohingya di Miyanmar,Afrika Tengah,China,dll

Semua realitas itu mengukuhkan kesimpulan bahwa umat ini memerlukan persatuan.supaya umat islam tdk lg di lecehkan,dihina,disakiti!

Dgn Khilafah,persatuan umat bnar2 dpt diwujudkan dlm kehidupan.Selain ikatan aqidah,persatuan semakin kokoh tatkala berada dlm ikatan daulah

Eropa "menyatu" dgn uni Eropanya,China bersatu dlm RRC,negara2 bagian amerika dlm USA,lalu kenapa tdk umat Islam bersatu dlm Khilafah

yg tjd krn takut Islam kembali jaya dlm ikatan yg sangat kuat,skrg bangsa Islam dipecah2 dlm negara2 kecil dan ditanamkan ikatan nasionalis

saat Khilafah waktu lalu mulai melemah krn pemikiran2 asing,ditambah pengkhianat antek2 asing akhrnya barat mulai menjajah negeri muslim

 lalu akhirny dgn iming2 diberi kemerdekaan,dipecah belahlah dlm ikatan2 nasionalis yg lemah,shg mjd tersekat2 spt skrg

kemerdekaan semu sbnrny penjajahan itu msih ada sampai kini,umat dibodohi berganti dgn boneka2 yg ditanamkan,penjajahan gaya baru yg "halus"

sudah mjd tugas kita menyatukan kembali bangsa2 dalam satu kesatuan daulah,spt dijalankan Rasulullah hingga berjalan slama 1400 tahun

Ini adalah janji Rasulullah,sdh mjd kwjiban umat utk mempercayai dan memperjuangkannya.btuh pemahaman krn sejarah tlah diputarbalikkan mreka

 Dengan Khilafah, negeri-negeri Islam yang kini membentang dari Maroko hingga Merauke dapat dipersatukan.

Tatkala dihimpun dlm satu daulah,maka Khilafah akan menjadi negara raksasa yang disegani dunia.Tidak ada yang berani melawan dan melecehkan

Dengan Khilafah pula, umat Islam beserta agamanya terjaga. Darah, kekayaan, dan kehormatan akan terpelihara.

Beliau bersabda:
Sesungguhnya imam itu adalah perisai, tempat berperang di belakangnya dan berlindung dengannya (HR al-Bukhari).

Rezim tlah beberapa kali berganti. Pemilu legislatif,presiden,kepala daerah sdh diadakan berkali2 Namun perubahan lebih baik tak kunjung tjd

 Janji manis para politisi tinggal janji. Keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan hanya mimpi.

Bagaimana bisa keadilan,kemakmuran, &kesejahteraan bs diwujudkan, sementara sistem justru menciptakan ketimpangan, kemiskinan,&kesengsaraan

 Bagaimana bisa negeri ini terbebas dari penjajahan, sedangkan sistem yang diterapkan justru melempengkan penjajahan

Maka, siapa pun pemimpinnya, jika sistemnya tidak diubah, tetap saja tidak akan membawa perubahan.

Inilah yang terjadi di negeri ini. Pangkal penyebab aneka problema di negeri ini adalah sistem batil dan rusak

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (QS Thaha [20]: 124).

Menurut Imam Ibnu Katsir rahimahul-Lâh dalam tafsirnya, pengertian berpaling dari peringatan-Ku adalah

 menyelisihi perintah-Ku &apa yg Aku turunkan kpd para rasul-Ku,berpaling darinya,melupakannya,&mengambil selainnya sebagai petunjuk baginya,

Penolakan terhadap syariah, tidak hanya menyebabkan derita di dunia, namun juga akan menjerumuskan manusia ke dalam neraka.

 Inilah yang ditegaskan dalam ayat ini selanjutnya:

وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى﴾
Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta (QS Thaha [20]: 124).

 Dgn Khilafah,syariah dgn seluruh bagiannya dpt diterapkan.Sbg hukum yg berasal dr Dzat Maha Benar&Maha Adil,syariah adlh hukum
yg benar&adil

Jika sekiranya penduduk negeri2 beriman &bertakwa,pastilah Kami akan melimpahkan kpd mereka berkah dari langit &bumi (QS al-A’raf [7]: 96)

Smoga Allah Swt menyegerakan pertolonganNya dgn kembalinya Khilafah ‘alâ minhâj al-nubuwwah;&kita tmsuk diantara org2 yg ikut andil di dlmny

Pria sejati

Pria terindah di mata wanita bukanlah yg paling tampan raut wajahnya, melainkan yg paling menawan keimanan dan budi pekertinya..

Pria terjantan dihadapan wanita bknlah yg paling berani mengungkap cinta, melainkan yg paling berani menemui wali sang hawa utk meminangnya

Pria teromantis di hati wanita bknlah yg paling mesra,melainkan yg berani mempertgjwbkan kata cinta di hadapan ALLAH dgn membawa ke surgaNya

Pria tergagah di hadapan wanita bukanlah yang paling kekar tubuhnya, melainkan yang mampu bertanggungjawab thdp keluarga..

Pria terkaya di angan wanita bukan hanya terbanyak hartanya, melainkan yg kaya hatinya sehingga pandai bersyukur atas segala karunia-Nya..

Pria terpandai di benak wanita bukanlah yg paling banyak ilmu dunia,melainkan yg paling peduli utk membimbing kpd jalan yang diridhai-Nya..

Selasa, 29 Juli 2014

Dosa Kolektif

Dalam sebuah sidang pengadilan umum, segerombolan pemabuk yang menjadi terdakwa dihadapkan ke meja hijau. Mereka ditanya oleh Pak Hakim, “Mengapa kalian mabuk-mabukan? Apa kalian tak tahu itu melanggar hukum?”

“Kami biasa mabuk-mabukan karena begitu mudahnya kami mendapatkan miras yang dijual bebas. Kami tak akan mabuk kalau tak ada yang diminum. Kalau mau disalahkan, ya salahkan saja para penjual mirasnya, Pak Hakim,” jawab mereka enteng.

Di samping para pemabuk duduk berjajar para pedagang miras. Hakim bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian menjual miras? Kalian tahukan, miras itu merusak generasi kita!”

“Betul Pak Hakim,” jawab para pedagang miras. “Tapi, kami tentu tak akan menjual miras jika tak ada pabrik yang memproduksi dan menawari kami minuman memabukkan itu. Kami hanya penjual. Jika ada barang yang bisa dijual dan ada pembelinya, ya kami sediakan. Yang penting kami untung. Kalau kami salah, harusnya Pak Hakim juga menyalahkan para pemilik pabrik miras itu.” Kata mereka sambil menunjuk kepada para pengusaha pabrik miras di sebelah mereka.

“Sebentar Pak Hakim,” kata para pengusaha pabrik miras itu. “Kami hanyalah para pengusaha. Selama ini usaha kami tak melanggar hukum. Toh, miras sudah dilegalisasi. Ada UU-nya. Jadi, jangan kami disalahkan, dong. Kalau mau disalahkan, ya Pemerintah dan para wakil rakyat. Mengapa mereka melegalisasi miras?!” Sergah mereka sebelum ditanya dan disalahkan Pak Hakim.

Pak Hakim kemudian berpaling kepada wakil dari Pemerintah dan para anggota DPR yang terhormat. “Mengapa Bapak-bapak kok bisa-bisanya mengeluarkan peraturan yang melegalisasi miras? Bukankah Bapak-bapak lebih tahu dampak buruk miras bagi generasi kita?”

“Betul, Pak Hakim. Tapi, kalau tidak dilegalkan, akan banyak aneka jenis miras yang ilegal beredar di tengah-tengah masyarakat tanpa kontrol negara. Ini lebih berbahaya. Jadi, legalisasi miras juga demi mengontrol peredaran miras ilegal. Selain itu, miras legal kan tetap bisa mendatangkan keuntungan bagi negara dalam bentuk pajak miras. Lagi pula kami ini wakil rakyat. Kami punya kuasa penuh. Kami berhak membuat aturan apapun karena kami telah diberi mandat oleh rakyat. Salahnya rakyat, mengapa mau memilih kami dan menyerahkan mandat mereka kepada kami,” tegas para wakil rakyat yang diamini oleh wakil dari pihak Pemerintah.

Rakyat, yang juga bersaksi di pengadilan umum itu, tentu tak mau disalahkan. Buru-buru mereka membela diri, “Pak Hakim, kami sadar, ini negara demokrasi yang memberikan kewenangan kepada penguasa dan wakil rakyat untuk membuat aturan apapun. Kami pun tahu, jauh sebelum Pileg dan Pilpres, tak ada satu pun di antara para caleg serta capres-cawapres yang berkomitmen untuk menerapkan syariah Allah SWT. Namun, kami toh harus tetap memilih mereka. Pasalnya, menurut MUI golput itu haram, sementara MUI tak mengharamkan kami memilih penguasa dan wakil rakyat yang tak mau menerapkan syariah Islam. Jadi, maaf, para ulama itu juga..apa tidak salah, Pa Hakim?” Tanya rakyat setengah menggugat sambil melirik ke arah wakil ulama yang duduk di depan mereka…

*****

Demikian sebuah postingan bagus pada laman facebook di wall saya; sebuah dialog imajiner, yang sedikit saya modifikasi.

Selain para pemabuk yang enggan disalahkan secara sepihak sebagaimana dalam dialog imajiner di atas, para pelacur/para pezina dan para penikmatnya juga pasti berpendirian serupa. Para pelacur/pezina akan berdalih bahwa mereka adalah para pekerja legal.Toh sebutan resmi “pekerja seks komersial” sudah lebih dulu mereka dapatkan dari Pemerintah. Apalagi mereka ‘bekerja’ di tempat lokalisasi yang telah dilegalkan oleh para wakil rakyat dan dipungut pajaknya oleh Pemerintah. Alasan yang sama pasti juga dikemukakan oleh para penikmat seks komersial alias para lelaki hidung belang.

Demikian pula para pelaku riba, para penegak hukum yang memutuskan perkara bukan dengan hukum-hukum Allah SWT dan tentu para pejabat yang menjalankan sistem sekular. Ujung-ujungnya, lagi-lagi kesalahan berpulang kepada rakyat yang telah memilih penguasa dan para wakil mereka.

Tentu tak ada yang salah dengan memilih penguasa dan wakil rakyat. Dalam Islam pun, penguasa dan wakil rakyat dipilih oleh rakyat. Yang salah adalah saat penguasa maupun para wakil rakyat diberi mandat penuh untuk membuat UU dan peraturan sesuai dengan kehendak dan hawa nafsu mereka. Padahal dalam Islam, penguasa diangkat hanya untuk menerapkan syariah Allah SWT. Wakil rakyat juga dipilih dalam rangka mengawasi penguasa agar sungguh-sungguh menerapkan syariah-Nya, bukan malah membuat hukum yang lain.

Namun, ya itulah sistem demokrasi. Sistem ini sejak awal memberi penguasa dan wakil rakyat—sebagai pemilik kedaulatan—kewenangan mutlak untuk membuat ragam UU dan peraturan sesuai dengan kehendak dan hawa nafsu mereka; terlepas dari sesuai atau bertentangan dengan syariah Allah SWT.

Jika demikian, demokrasi sebetulnya melahirkan ‘dosa kolektif’. Bukan hanya para pemabuk, para pedagang miras dan para pemilik pabrik miras yang salah. Bukan hanya para pelacur, para germo, lelaki hidung belang dan para pemilik tempat pelacuran legal yang bermaksiat. Bukan hanya para penguasa, wakil rakyat dan rakyat itu sendiri yang keliru. Ulama juga berdosa. Dosa yang sama juga menimpa para da’i dan para mubalig, termasuk partai dan ormas Islam yang mendiamkan semua ini terus terjadi.

Dosa mereka tentu lebih besar lagi karena bukan hanya miras dan pelacuran yang dilegalkan. Banyak UU dan peraturan yang dibuat oleh Pemerintah dan wakil rakyat yang melegalkan banyak perkara yang justru berten-tangan dengan syariah Islam seperti: utang luar negeri berbasis riba; perbankan ribawi; penguasaan kekayaan milik umum oleh pihak asing; pajak yang memberatkan rakyat; dll.

Semua itu tentu berpangkal pada sistem sekular yang terus dibiarkan bercokol di negeri ini, bahkan terus dipelihara dan dirawat oleh bangsa ini. Tak ada upaya dari berbagai komponen bangsa ini—kecuali segelintir orang—yang sungguh-sungguh berupaya memperjuangkan tegaknya syariah Allah SWT secara kaffah di semua lini kehidupan, tentu dalam sistem Khilafah.

Alhasil, ‘dosa kolektif’ ini harus dipertanggungjawabkan oleh semuanya di Akhirat nanti, tentu di hadapan Allah SWT, Hakim Yang Mahaadil. Siapkah kita?!

Wa ma tawfiqi illa bilLah.[Arief B. Iskandar]

 


Sabtu, 26 Juli 2014

Syarat Taubat diterima

1) Agar taubat diterima,mk harus memenuhi tiga hal yaitu:
(1) Menyesal, (2) Berhenti dari dosa, dan (3) Bertekad untuk tidak mengulanginya.

 2) Taubat tidaklah ada tanpa didahului oleh penyesalan terhadap dosa yang dikerjakan.

3) Yg tdk menyesal mk menunjukkan bahwa ia senang dgn perbuatan tersebut dan menjadi indikasi bahwa ia akan terus menerus melakukanny


4)Akankah kita percaya bahwa seseorang itu bertaubat sementara dia dengan ridho masih terus melakukan perbuatan dosa tersebut?


5) Hendaklah insan yg bertaubat membangun tekad kuat dgn keikhlasan, kesungguhan niat serta tidak main2


 6) seseorang yg mengulangi perbuatan dosanya, jelaslah bahwa taubatnya tidak benar.


 7) Apabila Alloh menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Alloh bukakan pintu taubat baginya


8) Sehingga ia benar-benar menyesali kesalahannya, merasa hina dan rendah serta sangat membutuhkan ampunan Alloh.


9) Bukti taubat adlah dgn ketaatan thdp setiap perintah Allah,walaupaun berat/sulit penyerahan scr total dlm menggapai ridhoNya


10) Yg tak jua bertaubat hati kan smakin mengeras membatu,makin sulit mnerima kebenaran,hingga mati dlm kesesatan.naudzubillah

Pilihlah karena agamanya supaya selamat

Misal ada wanita/pria yg sangat rupawan spt ratu sejagad/bintang ganteng sepakbola,tapi..maaf,dia kurang waras alias gila,tentu ga mau kan

oke deh dinaikan,cantik rupawan & ganteng atletis,ehm... tapi,maaf IQ dibawah rata2 alias bodoh ga nyambung2,tentu mikir2 jg kan..

Oke klo gt misal Cantik nan anggun/Ganteng macho,tapi..jutek,nyebelin,suka marah tnp sebab,intinya akhlaknya kurang,juga mikir2 kan..

Ternyata kecantikan/kegantengan blm tentu jd pilihan jk tdk diikuti dgn sst dari dalam diri yg membuat mjd bernilai

Benarlah Rasulullah dlm sabdanya "pilihlah agamanya supaya kamu selamat",yg memahami agama benar2 kan mmbawa diri bahagia dunia akhirat

Yg paham agama kan memuliakan pasangannya,menenangkan,trs mau belajar& berusaha,sabar,teguh,kuat dlm cobaan,sll tunduk pd aturan Allah

Mana ada sih yg ga mau pasangan hidupnya seorh soleh/soleha.. kecuali mmg dia bkn bnr2 muslim sejati,ga mau diajak kearah taat

Pasangan soleh/ha kan bersama saling menguatkan mengarungi samudera kehidupan,baginya tujuan hidup adlah utk Ridho Allah semata

 Ketika Allah Ridho jgnkan hidup berlimpah,bahkan sampai dijanjikan berkah dari langit & bumi,alias bahagia hakiki didapat

Bahkan krn ridho-Nya,cinta kedua insan tsb dijadikan abadi sampai diakhirat dikumpulkan kembali dlm surga.. MasyaAllah...

Tapi ingat,blm ada ceritanya org sukses dlm bidang apapun tnp disertai adanya perjuangan & pengorbanan.. Sbg penguji keimana & ketaatan

Supaya mndptkan jodoh yg berkualitas,diawali dgn mengkualitaskan diri sendiri dulu,pantaskan diri sblm mjd pantas..

Karena berita dlm Al Quran bhw yg baik hny teruntuk yg baik,demikian pula sebaliknya.. ini kuncinya wahai shalihin/shalihat..

 Perhiasan mewah nan indah & limited hanya akan dimiliki oleh seorg yg mampu nan berkelas..

Semoga akhi dan ukhti semua dipertemukan dgn bidadari/ "bidadara" yg soleh/soleha.. aamiin..

Sabtu, 12 Juli 2014

Pudarnya peran politik ulama

Peberadaan ulama di tengah-tengah masyarakat amat penting bagi kehidupan umat. Sosok yang disebut oleh Rasulullah saw. sebagai pewaris para nabi (Waratsatul Anbiya’) dituntut untuk memainkan perannya sebagai pemimpin umat dalam meneruskan dakwah Rasulullah saw.; berdiri di garda terdepan bersama umat menegakkan kalimatilLah di muka bumi.
Ulama adalah figur sentral yang sangat berpengaruh terhadap kondisi suatu masyarakat. Mereka memiliki andil besar apakah suatu masyarakat itu dalam kebaikan ataukah dalam keburukan. Jika ulama menjalankan tugasnya dengan baik niscaya umat dapat menjadi baik. Jika ulama abai terhadap tugasnya, niscaya umat juga menjadi rusak. Gambaran ini sebagaimana dituturkan oleh Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulum ad-Din (VII/92): rusaknya masyarakat akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama.
Saat ini kondisi umat Islam begitu memprihatinkan. Hal ini tercermin pada semua lini kehidupan; sektor politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Seluruh negeri Muslim masih dijajah, baik itu secara fisik maupun non-fisik. Alhasil, terjadilah penistaan terhadap Islam dan kaum Muslim. Kemiskinan, dekadensi moral dan perpecahan terus mewarnai kehidupan umat Islam.
Carut-marutnya Dunia Islam tersebut diakibatkan karena umat Islam sudah tak lagi memiliki perisai pelindung bagi umat, sebagai penjaga kemuliaan Islam dan kaum Muslim, sebuah institusi politik penerap syariah Islam secara kaffah. Itulah negara khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah.
Akibat ketiadaan khilafah ini, hukum Islam terus di sia-siakan, sementara hukum kufur justru menjadi kredo para penguasa. Maka dari itu, sudah selayaknya para ulama tak boleh tinggal diam atas perkara besar ini. Ulama harus lantang menyampaikan kebenaran meski itu pahit.
Ulama harus sadar politik. Politik dalam arti pengaturan urusan umat. Menimbang segala permasalahan umat dengan sudut pandang Islam dan mengambil solusi atas segala persoalan dengan solusi Islam. Ulama harus terus melakukan amar makruf nahi mungkar, sigap mengawal penguasa dalam menerapkan hukum-hukum-Nya. Saat peran politik ulama pudar, implikasinya seperti yang dialami dunia Islam saat ini.
Pudarnya Peran Politik Ulama
Pudarnya peran politik ulama dicirikan oleh kemunculan beberapa tipikal ulama berikut:
1.       Ulama yang apolitis. Ulama jenis ini tidak hirau dengan persoalan politik umat.
Detik ini negeri-negeri kaum Muslim di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Suriah, Afrika Tengah, Rohingnya dll terus mengalami penistaan. Pembantaian terus terjadi dengan jumlah kerugian jiwa maupun materi sudah tak terhitung lagi. Sayangnya, banyak ulama yang tidak begitu peduli dengan kondisi ini. Sebagai contoh ada seorang ulama yang dikenal cukup kontroversial asal Indonesia, justru sempat-sempatnya menyindir melalui iklan media massa atas penderitaan saudara di Timur Tengah demi kepentingan kampanye politik sebuah parpol dalam rangka pemenangan Pemilu 2014. Di Saudi Arabia, beberapa waktu lalu keluar fatwa nyleneh dari seorang mufti Kerajaan yang melarang para pemuda Arab berjihad mempertahankan bumi kaum Muslim dan membela saudaranya di Suriah (Saudi Pers Agency, 23/03/13).
2.       Ulama salathin pembela penguasa zalim.
Ulama salathin merupakan bagian dari ulama su’. Sebagaimana menurut Imam Al-Ghazali, ada dua jenis ulama: ulama akhirat/ulama al-khair (ulama yang baik) dan ulama dunia/ulama su’ (ulama yang jelek). Ulama akhirat adalah ulama pewaris para nabi. Mereka membimbing ke jalan keselamatan dan menjadi pelita bagi umat. Ulama dunia adalah ulama yang menjadi penyesat dan perusak; ia beramal tak sesuai ilmunya. Mereka begitu mencintai harta dan jabatan sehingga rela menjual agamanya. Keberadaan ulama su’ ini dicela oleh Rasulullah saw., “Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama sû’. Mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu.” (HR. Al-Hakim).
Ulama salathin berada di pintu-pintu penguasa guna menyenangkan para penguasa dengan mengharap imbalan jabatan maupun harta. Kasus ini terjadi di banyak negeri Muslim. Cukup banyak ulama yang telah dikooptasi oleh para penguasa dan menjadi penopang eksisnya sebuah rezim. Para ulama ini acap mengeluarkan fatwa-fatwa pesanan penguasa untuk memuluskan kepentingan tuannya itu. Di Mesir, misalnya, pasca tergulingnya Mursi, seperti diberitakan laman New York Times (25/08/13), Presiden Al-Sisi menggandeng para ulama untuk tampil di media-media setempat guna membunuh karakter lawan politiknya, yakni Ikhwanul Muslimin.
3.       Ulama yang mempromosikan sistem kufur: demokrasi, sekularisme, pluralisme, nasiona-lisme, dll.
Jika orang kafir Barat mempromosikan sistem kufur (demokrasi, sekularisme, kapitalisme, nasionalisme, dll), tentu bisa dikatakan wajar. Pasalnya, sistem ini memang lahir dari Barat dan buah pikir para intelektual barat. Namun, akan tampak aneh ketika sistem kufur justru dipromosikan oleh kaum Muslim apalagi ulama. Padahal Allah SWT telah menyediakan sistem-Nya, yakni sistem Islam.
Para ulama ini gencar melakukan promosi sistem kufur melalui khutbah-khutbahnya maupun buku-buku yang telah mereka tulis dengan cara melegimitasi dengan nash-nash syariah. Mereka memaksa untuk mengawinkan Islam dengan sistem kufur. Hasilnya pun cukup berhasil menginspirasi sebagian umat Islam yang kemudian menjadi pengemban dan pembela sistem kufur karena mengikuti ulama tersebut.
4.       Ulama “selebriti” yang mengikuti selera pasar.
Tak sedikit ulama yang hanya mengikuti selera pasar dalam materi dakwahnya. Mereka cenderung khawatir ditinggal penggemarnya alias tidak laku lagi sebagai da’i apabila menyampaikan suatu kebenaran. Padahal umat ini membutuhkan dakwah yang bersifat menyeluruh (kaffah) dengan tidak menyembunyikan sebagian syariah yang lain.
Ketika dakwah dilakukan dengan cara memilih dan memilah yang sekiranya materi itu disukai umat, dakwah pun gagal menjadikan umat berkepribadian Islam secara utuh. Misal, umat mungkin rajin shalat dan shalawat, namun mereka masih ridha terhadap demokrasi sistem kufur; atau umat menjadi rajin bersedekah dan berakhlak baik terhadap sesama, tetapi masih akrab dengan riba dan budaya hedonis lainnya.
5.       Ulama yang justru menganggap syariah dan khilafah sebagai ancaman.
Ulama seperti ini benar-benar keterlaluan. Entah apa yang ada di benaknya saat menganggap sistem yang dirujuk dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. sebagai ancaman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak segan-segan mereka pun menyatakan penolakan terbuka atas upaya penegakkan syariah dan khilafah dengan berbagai alasan yang dikemukakan. Bahkan di beberapa kesempatan mereka mencoba melakukan black campaign kepada pejuang khilafah di hadapan khalayak umum.
Faktor Penyebab
Setidaknya ada beberapa faktor penyebab mengapa fenomena di atas bisa terjadi.
1.       Ulama tidak memahami Islam sebagai sebuah ideologi atau sistem kehidupan.
Gencarnya serangan pemikiran yang dilancarkan Barat mengakibatkan umat Islam termasuk sebagian ulamanya mengalami kemunduran berpikir. Dampaknya, Islam tak lagi dipandang sebagai sebuah sistem ideologi (mabda’). Ulama yang tak memiliki kesadaraan ideologis ini melakukan syiar agama layaknya rahib-rahib di agama lain. Mereka hanya menitik beratkan pada persoalan ukhrawi saja. Disiplin ilmu yang dikuasai ulama ini pun tak lagi komprehensif. Dakwahnya sebatas persoalan syariah yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Adapun syariah yang mengatur hubungan manusia dengan sesama (politik, ekonomi, dsb) masih belum didalami. Ekonomi Islam, misalnya, dipahami sebatas bank syariah, atau politik Islam dipahami sebatas politik yang jujur dan santun.
2.       Ulama terlalu cinta dunia dan takut penguasa.
Banyak ulama yang terlalu mencintai dunia sehingga lisannya mulai kelu untuk menyampaikan kebenaran, terutama di hadapan penguasa. Harta dan jabatan memang tampak manis dan lezat untuk dinikmati. Awalnya ulama tersebut memiliki motivasi tinggi bahwa dengan harta dan jabatan itu akan melancarkan dakwah. Namun, saat dirasa kemewahan dunia itu begitu mempesona, idealisme ulama pun kian pudar. Ia sangat takut kehilangan harta maupun jabatannya apabila menyerukan kebenaran.
Saking cintanya pada dunia, ulama ini pun menjadi takut dengan penguasa. Ia takut mengambil risiko atas dakwahnya jika harus mengoreksi penguasa. Hal ini bertolak belakang dengan para ulama dulu Mereka begitu berani mengingatkan penguasa meski harus berhadapan dengan hukuman yang bisa mengancam nyawanya.
3.       Ulama gagal memahami fakta dan realitas: ideologi kufur, pemikiran kufur, dll.
Ideologi dan pemikiran kufur seperti halnya demokrasi memang didesain oleh Barat sedemikian rupa supaya tampak indah. Hasilnya, umat termasuk sebagian ulama mempunyai kesimpulan yang keliru terhadap realitas demokrasi. Misal, demokrasi dianggap tidak bertentangan dengan Islam karena mirip dengan syura (musyawarah). Padahal menyamakan syura dengan demokrasi adalah kesimpulan yang prematur. Demokrasi adalah sebuah pandangan hidup yang menyerahkan kedaulatan (kewenangan membuat hukum) berada di tangan manusia. Dalam demokrasi, manusialah yang berhak membuat hukum dan undang-undang yang kemudian diwakilkan kepada wakil rakyat. Adapun syura dalam Islam adalah perkara teknis pengambilan pendapat yang itu boleh dilakukan asal dalam koridor syariah Islam.
4.       Ulama terpengaruh pemikiran sekular yang memisahkan agama dengan politik.
Virus sekularisme (pemisahan agama dengan kehidupan) juga menjangkiti sebagian ulama. Contohnya muncul ungkapan-ungkapan dari beberapa ulama bahwa syariah Islam memang cocok diterapkan pada zaman Nabi saw., tetapi tidak cocok diterapkan pada zaman sekarang. Bukankah al-Quran dan as-Sunnah itu berlaku hingga akhir zaman.
Ada pula yang beranggapan bahwa syariah Islam itu tidak perlu diformalisasikan dan cukup substansinya saja. Padahal tidak ada ideologi manapun yang bisa ditegakkan hanya cukup substansinya saja. Karena itu, jika ulama mendukung syariah Islam cukup hanya substansinya berarti mereka mendukung formalisasi ideologi lain.
5.       Ulama bingung mencari akar penyebab persoalan umat.
Tak sedikit ulama yang masih bingung mencari persoalan utama umat sehingga muncul ragam anggapan. Pihak yang menganggap akar persoalan umat ialah ekonomi bergeraklah di bidang ekonomi seperti pendirian lembaga keuangan syariah. Pihak yang beranggapan bahwa persoalan umat ialah pada keterbelakangan ilmu fokus pada bidang pendidikan seperti mendirikan sekolah-sekolah. Pihak yang menganggap persoalan umat terletak pada bidang sosial bergerak di bidang sosial. Demikian seterusnya.
Apakah aktivitasnya itu keliru? Tentu tidak. Namun, bilamana yang dilakukan sebatas itu dan tidak bersedia ikut memperjuangkan tegaknya ideologi Islam, sesungguhnya hal itu tak akan dapat membangkitkan umat. Pasalnya, persoalan-persoalan umat seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dll bermuara pada tidak adanya penerapan syariah Islam secara kaffah dalam nanungan negara khilafah. Inilah persoalan utama umat.
6.       Ulama yang memang dipromosikan oleh Barat.
Faktor lain penyebab pudarnya peran politik ulama ialah datang dari ulama-ulama yang memang direkomendasikan oleh Barat. Mereka adalah ulama-ulama yang berpikiran moderat dan juga berpikiran liberal sehingga disukai dunia Barat. Amerika Serikat kepergok beberapa kali turut membesarkan nama ulama-ulama ini dengan cara memberikan mereka penghargaan khusus. Seorang ulama terkemuka asal Indonesia pada tahun 2008 misalnya pernah menyabet beberapa penghargaan dari lembaga-lembaga Amerika Serikat, seperti dari Simon Wiethemthal Center, yang memberikan penghargaan soal HAM, atau lembaga Mebal Valor yang memberikan penghargaan terkait pembelaan kaum minoritas.
Umat Merindukan Ulama Akhirat
Dari realitas di atas terbaca betapa umat amat membutuhkan kiprah ulama akhirat yang benar-benar menjalankan tugas keulamaannya dengan baik, yang menuntun umat menuju jalan selamat dunia-akhirat.
Secercah asa pun kini kian terang. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya para ulama yang mulai menyadari peran dan tanggung jawab mereka. Salah satu contohnya ialah ketika pada tahun 2009 lalu ribuan ulama berkumpul dalam sebuah muktamar guna membahas persoalan umat. Mereka bersepakat untuk berjuang melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya syariah dan khilafah. Sungguh umat sangat merindukan ulama akhirat.
Wallahu a’lam. [Ali Mustofa Akbar; Maktab I’lamiy HTI Soloraya]
Sumber : http://hizbut-tahrir.or.id/2014/04/03/pudarnya-peran-politik-ulama/