Bendera Tauhid

Jumat, 29 Januari 2016

Metode menegakkan khilafah

✅ Tanya Jawab atas Ungkapan “Jihad
Bukan Metode untuk Menegakkan al-
Khilafah”

Penerjemah: Irfan Abu Naveed 

Sumber Tanya Jawab (Like):
FP Al-’Alim Asy-Syaikh ‘Atha bin
Khalil Abu ar-Rasytah –Hafizhahullaah–
~~~~~~~~~~~~~
ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ

✅ Pertanyaan:
ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ
Wahai Syaikh kami Amir HT:
Kita berpandangan bahwa menegakkan
Khilafah dan Jihad adalah dua
kewajiban yang berbeda,
membenarkan poin bahwa jihad tidak
menjadi metode untuk menegakkan
al-Khilafah. Dapatkah anda jelaskan
perbedaan kewajiban tersebut?

Semoga Allah menerima amal ibadah anda dan menganugerahi anda taufik untuk menjaga (pemikiran) umat ini
dan:
( ﻧﺤﻦ ﻧﻘﻮﻝ ﺇﻥ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ ﻓﺮﺽ، ﻭﺍﻟﺨﻼﻓﺔ ﻓﺮﺽ، ﻟﻜﻦَّ ﺍﻟﺠﻬﺎﺩ
ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﺍﻟﻄﺮﻳﻘﺔ ﻹﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺨﻼﻓﺔ … ﺃﺭﺟﻮ ﺗﻮﺿﻴﺢ ﺍﻷﻣﺮ …)
“Kami katakan bahwa jihad hukumnya
fardhu, dan Khilafah pun fardhu, akan
tetapi jihad bukanlah metode untuk
menegakkan al-Khilafah… 

Saya memohon penjelasan atas
permasalahan ini…”

✅ Jawaban:
ﻭﻋﻠﻴﻜﻢ ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

Terdapat hal-hal pokok yang wajib
dipahami dengan baik karena hal itu akan memperjelas jawaban:

1⃣ Pertama, sesungguhnya dalil-dalil yang dicari untuk menggali suatu hukum syara’ untuk suatu masalah
adalah dalil-dalil yang memang untuk
masalah tersebut bukan dalil-dalil
dalam masalah lainnya (di luar konteks pembahasan-pen.):

1. Misalnya jika saya ingin mengetahui bagaimana tatacara berwudhu, maka saya
akan mencari dalil-dalil wudhu yang ada, sama saja apakah
turun di Makkah atau Madinah, dan digali hukum syara’ darinya berdasarkan ilmu ushul yang diadopsi… 
Dan saya tidak
akan mencari dalil-dalil shaum untuk diambil darinya hukum wudhu dan tatacaranya.

2. Dan misalnya jika saya ingin
mengetahui hukum-hukum haji, maka demikian pula saya akan mencari dalil-dalil haji yang
ada, sama saja apakah turun di
Makkah atau di Madinah dan digali darinya hukum syara’
berdasarkan ilmu ushul yang diadopsi, 
dan saya tidak akan
mencari dalil-dalil shalat untuk diturunkan darinya hukum haji dan tatacaranya.

3. Dan misalnya jika saya ingin mengetahui hukum-hukum jihad, baik yang sifatnya hukum bagi individu maupun
kifaayah, baik jihad defensif atau jihad ofensif, apa-apa
yang berkaitan dengan jihad
dari hukum-hukum futuhat dan penyebaran Islam, 
sama saja apakah futuhat dengan cara paksaan atau dengan jalan damai… 

Maka saya akan
mencari dalil-dalil jihad yang ada, sama saja apakah turun di
Makkah atau di Madinah, dan digali darinya hukum syara’
berdasarkan ilmu ushul yang diadopsi, 
dan saya tidak akan
mencari dalil-dalil zakat untuk diturunkan darinya hukum jihad dan perinciannya.

4. Begitu pula dengan setiap permasalahan, ia mesti dicari dalil-dalil berdasarkan tempat diturunkannya di Makkah atau
di Madinah, dan digali darinya hukum syara’ untuk suatu permasalahan dari dalil-dalil ini berdasarkan ilmu ushul yang diadopsi.

2⃣ Kedua, dan sekarang saatnya kita
meninjau permasalahan menegakkan Negara Islam, dan kita mencari dalil-
dalilnya, sama saja apakah diturunkan di Makkah atau di
Madinah, dan kita gali darinya hukum
syara’ berdasarkan ilmu ushul yang
diadopsi.

1. Sesungguhnya kita tidak menemukan dalil-dalil apapun
mengenai menegakkan Negara
Islam kecuali dari apa yang dijelaskan Rasulullah –
shallallaahu ’alayhi wa sallam – dalam Siirah- nya
ketika di Makkah al-
Mukarramah, 
dimana sungguh
beliau telah menyeru kepada Islam secara sembunyi- sembunyi, hingga beliau
membentuk kelompok orang- orang beriman yang sabar…

Kemudian beliau bergerak secara terang-terangan di
Makkah dan dalam beragam musim… 

Kemudian beliau
meminta pertolongan kepada ahlul quwwah, dan Allah –
Subhaanahu wa Ta’aalaa memuliakannya dengan pertolongan kaum Anshar,
maka beliau hijrah kepada tempat mereka dan
menegakkan suatu negara.

2. Rasulullah –shallallaahu
’alayhi wa sallam – tidak pernah memerangi penduduk
Makkah untuk menegakkan suatu Negara Islam, tidak pula beliau memerangi suku
manapun untuk menegakkan suatu Negara Islam, meski
memang Rasulullah –
shallallaahu ’alayhi wa sallam – dan para shabatnya –
ridhwaanullaahi ‘alayhim- adalah para pahlawan dalam
peperangan, kuat lagi
bertakwa… 

Akan tetapi Rasulullah –shallallaahu
’alayhi wa sallam – tidak menggunakan jalan peperangan
untuk menegakkan Negara Islam, akan tetapi terus konsisten berdakwah dan
meminta pertolongan ahlul quwwah hingga akhirnya kaum
Anshar menjawab seruan dakwahnya sehingga menegakkan Negara Islam.

3. Kemudian diwajibkannya
hukum jihad adalah untuk melakukan futuhat dan
penyebaran Islam, melindungi Negara Islam, dan jihad tidak
diwajibkan untuk menegakkan Negara Islam, dan setiap
permasalahan ini sudah jelas dalam Siirah Rasulullah –
shallallaahu ’alayhi wa sallam -.

4. Dan begitu pula jika ingin mengetahui tatacara penegakkan Negara Islam, maka diadopsi dari perbuatan (sunnah) Rasulullah –
shallallaahu ’alayhi wa sallam – berupa dakwah serta
meminta pertolongan dan sambutan kaum Anshar (penolong dakwah-pen.)
sehingga mampu menegakkan Negara Islam…

Dan jika saya ingin mengetahui hukum-hukum jihad, maka diambil dari dalil-dalil syar’iyyah yang
berkaitan dengan jihad, maka setiap
kewajiban diambil dalil-dalilnya dari
dalil-dalil syar’iyyah yang berkaitan
dengannya, maka kewajiban menegakkan Negara Islam diambil
dari dalil-dalil penegakkan Negara
Islam, dan jihad diambil dari dalil-
dalil mengenai jihad, dan konsisten
terhadapnya sesuai tujuannya dan Allah yang memberikan kepada kita taufik-Nya. []

Saudaramu ‘Atha bin Khalil Abu Ar- Rasytah⚫

Minggu, 24 Januari 2016

Sebab sulit shalat tahajud

������MENGAPA KITA SUSAH SHALAT MALAM [TAHAJUD] ?������

Bismillahirrahmanirrahim

��Ibrahim bin Adam pernah didatangi oleh seseorang untuk meminta nasehat agar ia bisa mengerjakan shalat malam (tahajud). Beliau kemudian berkata kepadanya, “Janganlah engkau bermaksiat kepada Allah Azza Wajala di siang hari, niscaya Allah akan membangunkanmu untuk bermunajat di hadapan-Nya malam hari. Sebab munajatmu di hadapan-Nya di malam hari merupakan
kemuliaan yang paling besar, sedangkan orang yang bermaksiat tidak berhak mendapatkan kemuliaan itu."

��Sementara Fudhail bin Iyadh berkata, “Jika engkau tidak mampu menunaikan shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah bahwa engkau sebenarnya sedang dalam keadaan terhalang, karena dosa-dosamu begitu banyak."

��Seseorang datang kepada Imam Ghazali untuk menanyakan kepada Beliau mengenai sesuatu yang menyebabkannya tidak bisa bangun malam untuk mengerjakan shalat. Beliau menjawab, “Dosa-dosamu telah membelenggumu."

��Al-Hasan berkata, “Tidaklah seseorang meninggalkan shalat malam kecuali karena dosa yang dilakukannya. Oleh karena itu, periksalah diri kalian setiap malam ketika matahari terbenam, kemudian bertaubatlah kepada Robb kalian, agar kalian bisa mengerjakan shalat malam."

��Dalam kesempatan lain, beliau menjelaskan, “Di antara pertanda seseorang itu tenggelam dalam dosa adalah bahwa dadanya tidak pernah lapang untuk bisa mengerjakan puasa di siang hari dan mengerjakan shalat sunnah di malam hari."

✒️Sofyan Ats-Tsauri berkata, “Aku pernah terhalang (tidak bisa bangun) untuk mengerjakan shalat malam selama lima bulan
disebabkan satu dosa yang telah aku lakukan." Ditanyakanlah kepada beliau, “Dosa apakah itu? “Beliau menjawab, “Aku melihat seorang laki-laki yang menangis, lalu aku katakan di dalam hatiku bahwa itu dilakukannya sebagai bentuk kepura-puraan saja."

��Abdullah bin Mas’ud pernah ditanya oleh seseorang, “Kami tidak bisa bangun malam untuk mengerjakan shalat". Ia pun menjawab,“Dosa-dosamu telah membelenggumu."

��Demikian juga memakan barang yang haram akan menghalangi pelaksanaan shalat malam. Salah seorang dari kalangan Ulama mengatakan, "Betapa sering sesuap makanan itu menghalangi pelaksanaan shalat malam. Betapa sering pandangan itu menghalangi seseorang dari membaca satu surat dari Al-Qur’an."

��Sungguh seorang hamba itu akan menyantap satu makanan atau melakukan sesuatu perbuatan yang menyebabkannya tidak bisa mengerjakan shalat malam selama satu tahun.

��Demikian juga, kecintaan kepada dunia (hubbud dunya) bisa menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat malam.

��Abu Thalib Al-Makki berkata, “Yang bisa menghalangi seorang
hamba dari melakukan shalat malam, atau yang menjadikannya lalai dalam waktu sekian lama, ada tiga hal. Yaitu,
1). menyantap makanan yang syubhat, 
2). terus-menerus melakukan perbuatan dosa dan,
3). dominasi pikiran keduniaan ada di relungan hatinya.

⭐️Bertolak dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa yang bisa membantu seseorang agar bisa mengerjakan shalat malam itu adalah; 
1. memakan makanan yang halal,
2. istiqomah di dalam bertaubat,
3. menjauhi makanan yang haram dan syubhat, 
4. menjauhi dosa dan maksiat, 
5. menolak dominasi pikiran keduniaan dan kecintaan kepada dunia dari dalam hati dengan cara selalu ingat mati dan memikirkan akhirat atau apa saja yang akan ditemui sesudah mati.
*****

��Sungguh, di antara shalat sunnah yang paling utama adalah shalat malam (tahajud). Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): Pada sebagian malam itu, bertahajudlah kalian sebagai ibadah tambahan bagi kalian. (Dengan shalat malam itu) Allah pasti mengangkat kalian ke derajat yang terpuji (QS al-Isra’: 79).

��Begitu pentingnya shalat tahajud ini, Rasulullah sampai menyuruh kita untuk “mengqadhanya” saat tertinggal. Beliau bersabda, “Jika kalian tertinggal dari menunaikan shalat malam karena sakit atau hal lain, hendaklah kalian menunaikan
shalat dua belas rakaat (rawatib) di siang hari.” (HR Muslim).

Dalam hadits lain beliau bersabda, “Siapa saja yang ketiduran hingga tidak menunaikan shalat witir atau sunnah-sunnahnya, Hendaklah ia menunaikannya saat terjaga.” (HR Muslim).

��Sebaliknya, Rasulullah "mencela” orang yang tidak melakukan shalat malam, padahal ia sering bangun tengah malam.

Beliau bersabda kepada Abdullah bin Amr bin al-’Ash, “Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan; ia bangun malam tetapi tidak menunaikan shalat malam.” (Mutaffaq ‘alaih).

��Semoga Allah ringankan hati dan langkah kita untuk tunaikan shalat
malam.

Wallahu a’lam.

Jumat, 22 Januari 2016

Anak muda pengubah peradaban

Bismillah
ust Budi Ashari 

PANTAS MEREKA TAKUT

Anak-anak muda yang membahayakan. Para teroris hadir. Sel-sel baru bermunculan. Pengajian-pengajian sumbernya. Masjid pusatnya. Terutama masjid sekolah-sekolah dan kampus. Kumpulan mereka perlu diwaspadai dan diawasi.

Lihatlah pola yang menggiring secara bertahap tapi pasti.Hasilnya sangat terlihat. Para orangtua banyak yang khawatir begitu melihat anaknya berubah menjadi baik. Seorang ibu ketakutan saat melihat anaknya liburan dari pesantrennya, karena melihat pakaian putrinya itu sangat rapi menutup aurat sesuai syariat Islam. “Apa anak saya sudah kerasukan pemikiran radikal?”

Efek buruk dan jahat ini merasuki otak dan hati para orangtua tanpa disadari. Dan anehnya, para orangtua lebih nyaman melihat anaknya bergaul tanpa batas. Itulah yang dianggap wajar. Mereka senang melihat anaknya menghabiskan waktu untuk melamun, karena dianggapnya sedang puber. Aneh...

Dan akhirnya para orangtua tanpa disadari memberi ‘wejangan’, “Hati-hati kalau ngaji di masjid.” Anak-anak muda yang rumit memilah jenis pengajian, akhirnya memutuskan untuk duduk-duduk di kafe, nongkrong di jalanan, bahkan tempat-tempat dosa. Dan mereka pun jauh dari masjid.

Luar biasa bukan...rencana jahat menjauhkan generasi muda dari masjid. Karena mereka sadar, tapi kita tidak sadar. Mereka tahu, tapi kita tidak tahu. Mereka membaca sejarahnya, kita tidak. Bahwa kebangkitan Islam itu berawal dari kebangkitan anak-anak mudanya.

Dengarkan penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya saat menjelaskan tentang kata: Fityah (pemuda), dalam Surat Al Kahfi,

“...Untuk itulah kebanyakan yang menyambut (seruan) Allah dan Rasul Nya shallallahu alaihi wasallam adalah pemuda. Adapun orang-orang tua dari Quraisy, kebanyakan mereka tetap bertahan dalam agama mereka dan tidak masuk Islam kecuali sedikit saja.”

Untuk lebih menjelaskan kalimat tersebut, mari kita baca tulisan DR. Mahmud Muhammad ‘Imaroh, Dosen Universitas Al Azhar Mesir. Beliau menuliskan data usia mereka yang masuk Islam di masa dakwah rahasia Nabi (sepanjang 3 tahun), dalam buku beliau Khawatir wa taammulat fis sirotin nabawiyyah, h. 125-129. Beliau mengambilnya dari dari Majalah Al Wa’yu Al Islamy, Edisi 77. Perlu diingat di awal, jika ada perbedaan tentang usia dalam buku-buku siroh adalah merupakan hal yang wajar. Di sini dinukilkan apa adanya dari buku tersebut:

1. Ali bin Abi Thalib 8 tahun
2. Zubair bin Awwam 8 tahun
3. Thalhah bin Ubaidillah 12 tahun
4. Arqam bin Abil Arqam 12 tahun
5. Abdullah bin Mas’ud Menjelang 15 tahun
6. Said bin Zaid Belum 20 tahun
7. Saad bin Abi Waqqash 17 tahun
8. Mas’ud bin Rabi’ah 17 tahun
9. Ja’far bin Abi Thalib 18 tahun
10. Shuhaib Ar Rumi belum 20 tahun
11. Zaid binHaritsah menjelang 20 tahun
12. Utsman bin Affan sekitar 20 tahun
13. Thulaib bin Umair sekitar 20 tahun
14. Khabbab bin Art sekitar 20 tahun
15. Amir bin Fuhairoh 23 tahun
16. Mush’ab bin Umair 24 tahun
17. Miqdad bin Aswad 24 tahun
18. Abdullah bin Jahsy 25 tahun
19. Umar bin Khattab 26 tahun
20. Abu Ubaidah bin Jarrah 27 tahun
21. Utbah bin Ghazwan 27 tahun
22. Abu Hudzaifah bin Utbah sekitar 30 tahun
23. Bilal bin Rabah sekitar 30 tahun
24. Khalid bin Said sekitar 30 tahun
25. Amr bin Said sekitar 30 tahun
26. Ayyasy bin Abi Rabi’ah sekitar 30 tahun
27. Amir bin Rabi’ah sekitar 30 tahun
28. Nu’aim bin Abdillah sekitar 30 tahun
29. Utsman bin Madz’un sekitar 30 tahun
30. Abdullah bin Madz’un 17 tahun
31. Qudama bin Madz’un 19 tahun
32. Saib bin Madz’un sekitar 10 tahun
33. Abu Salamah bin Abdul Asad sekitar 30 tahun
34. Abdurahman bin Auf sekitar 30 tahun
35. Ammar bin Yasir antara 30-40 tahun
36. Abu Bakar 37 tahun
37. Hamzah bin Abdul Muthalib 42 tahun
38. Ubaidah bin Harits 50 tahun
39. Amir bin Abi Waqqash masuk Islam setelah urutan orang ke-10
40. As Sail bin Utsman syahid di perang Yamamah (11 H) umurnya masih 30 tahun

Dan ini kalimat DR. Mahmud Muhammad ‘Imaroh,

Walau Quraisy terus menerus melakukan teror dan intimidasi terhadap orang-orang lemah..tetapi anak-anak muda itu justru mengumumkan keislaman mereka, dengan konsekuensi yang sedang menanti mereka berupa kesulitan hidup...dan terkadang harus mati!

Deretan angka-angka di atas menunjukkan kebenaran kalimat Ibnu Katsir bahwa kebesaran Islam ini lebih banyak ditopang oleh anak-anak muda.

Sebenarnya, skenario menjauhkan cara pandang yang benar terhadap generasi muda bukan hanya dilakukan sekarang dengan pola seperti ini. Berbagai cara dan pola telah lama mereka laksanakan.Mereka menyusupkan dengan perlahan tapi pasti berbagai teori racun. Targetnya jelas: menjauhkan anak-anak muda dari kebaikan mereka dan masjid mereka.

Seperti berbagai penelitian yang menyampaikan bahwa remaja adalah usia kerusakan, kegundahan, keguncangan, krisis, kenakalan. Pelajaran ini benar-benar tertanam pada orangtua. Sehingga, lagi-lagi mereka meyakini bahwa remaja harus melalui semua masalah itu. Jika ada anaknya yang baik-baik saja dan tidak melalui kekacauan itu, orangtua akan berkata, “Apa anak saya tidak normal ya?”

Lihatlah sebuah skenario besar dalam rentang puluhan bahkan ratusan tahun. Dan mereka berhasil meracuni pemikiran para pendidik dan orangtua muslim.
Padahal pemuda begitu positif dalam bahasa ayat, hadits dan ulama. Sehingga perlu sebuah upaya besar untuk membalik cara pandang tersebut sekaligus memberi obat dari masalah yang dihadapi oleh para pemuda kita. (nantikan modul dan pelatihannya dari parentingnabawiyah)

Pemuda adalah kekuatan, inspirasi, kreatifitas, ledakan ruhiyah, ketegaran, kesegaran, enerjik, karya besar dan penopang peradaban Islam.

Pantas mereka takut..

ust. budi ashari..

Sabtu, 16 Januari 2016

Hutang untuk modal usaha tepatkah?




��SEBUAH PERTANYAAN DALAM DISKUSI BISNIS SEPUTAR HUTANG DALAM MENJALANKAN BISNIS��

Salah satu pertanyaan klasik yang sering disampaikan dalam diskusi bisnis adalah adakah produk pembiayaan yang syar'i sehingga bisa menjadi alternatif sumber pendanaan bagi para pengusaha ? 

Sahabat, sebelum saya menjawab pertanyaan dalam diskusi biasanya saya mengajukan sebuah pertanyaan ini: Apakah menjalankan usaha dengan modal hutang adalah sebuah tindakan yang TEPAT dan BIJAK ?

Bila kita telaah, saya pikir hanya ada 3 sebab pelaku usaha memutuskan untuk berhutang, yaitu:

1⃣ Untuk Memulai Usaha.

Memulai usaha dengan hutang dalam pandangan saya merupakan sebuah kesalahan besar. Kenapa ? Karena bisnis baru, resiko kegagalannya sangat tinggi. Seorang pebisnis pemula yang memulai usaha dengan hutang berarti dia sedang meLEVERAGE resikonya. Akan sangat berat tentunya jika bisnisnya betul-betul gagal. Sudah rugi masih harus bayar hutang pula. Apalagi jika hutang itu adalah hutang riba. Bisa-bisa seumur hidup akan terlilit dengan hutang & bunganya.������

Teladan kita Rasulullah tidak pernah loh.. mengajarkan memulai usaha dengan hutang. Beliau mengajarkan untuk memulainya dengan semua sumberdaya yang kita miliki. Abdurahman bin Auf pun bisa menjadi pengusaha kaya raya tanpa finansial atau phisycal aset apalagi hutang. Hanya mengandalkan apa yang ada pada dirinya atau apa yang dia miliki saat itu.����

2⃣ Penggunaan Hutang Untuk Pengembangan Bisnis.

Biasanya alasan yang dijadikan pembenaran untuk berhutang pada situasi ini adalah agar tidak kehilangan momentum atau peluang dan ingin mempercepat pengembangan bisnis.

Saat seorang pengusaha berhutang dengan dalih ini sesungguhnya dia telah memaksa dirinya untuk bergerak/bertindak diluar kemampuan atau kapabilitasnya, tidak sabar, & mungkin ada sedikit "kesombongan" berupa keyakinan akan bisa meraih penghasilan yang bisa digunakan untuk membayar semua kewajiban dari hutang tsb. Tanpa sadar pada saat yang bersamaan dia telah melanggar larangan Allah karena riba .

Usaha yang dikembangkan dengan hutang, otomatis akan mendapatkan beban yang lebih besar berupa bunga. Kewajiban untuk membayar bunga (riba) + pokoknya tentu akan menganggu kelancaran arus kasnya. Tekanan ini akan mendorong perilaku pengusaha untuk melakukan APAPUN demi bisa memenuhi kewajibannya kepada kreditur. Menjual obral, menunda apa yang sudah menjadi hak karyawan, menambah hutang baru dan yang paling parah adalah ngemplang. Alih-alih usaha berkembang, hal ini tentu justru mendorong usaha kepada kebangkrutan.

Selain itu, kondisi ini tentunya sangat mengandung resiko, dunia akhirat. Apalagi Allah sudah menjanjikan akan menghancurkan harta riba..Bagaimana jika umur kita keburu habis sebelum semua hutang kita lunas ? Bisa-bisa sengsara dunia-akhirat. ��

3⃣ Dorongan terakhir pelaku usaha berhutang adalah untuk Memenuhi Kebutuhan Cash Flownya. 

Jika ini yang terjadi, menunjukkan cash in bisnisnya LEBIH KECIL daripada cash out nya. Bisnis yg pengeluarannya lebih besar dibanding pemasukannya berarti ada yang salah dalam manajemen atau bisnisnya sendiri. Mungkin bisnisnya bagus tapi pengelolaannya tidak baik, sehingga banyak piutang macet, terjadi banyak "kebocoran" atau tingkat penjualan yang rendah. Atau mungkin bisnisnya telah masuk pada tahap sunset. Dalam keadaan demikian tentu saja hutang BUKANLAH SOLUSI. Bisnis yang mengalami pendarahan jika diinjeksi hutang tanpa perbaikan pada akar masalahnya hanya akan menambah pendarahan dan mempercepat proses kematiannya.��

So, masihkah kita perlu berhutang untuk berbisnis???  Masihkah berpikir hutang adalah leverage??

Rabu, 23 Desember 2015

SEJARAH HARI IBU

��������������������

Ibu, Maaf Tak Ada Bunga Untukmu

By: Ustadz Budi Ashari, Lc

Dalam silaturahim saya ke salah seorang senior saya, dengan gurau beliau berkata: Ayo, sudah cari kado belum untuk hari ibu?

Di grup orang-orang baik yang ada di media sosial pun bermunculan berbagai kreasi gambar tentang kemuliaan seorang ibu dan ujungnya: Selamat Hari Ibu.

Saya baru sadar kalau ini adalah bulan di mana hari ibu diperingati. Dari sejak awal, saya katakan bahwa berbagai peringatan hari tersebut jelas bukan karakter agama Islam ini. Tak hanya hari ibu, ada juga hari ayah, hari tembakau, hari kanker, dan entah hari-hari apa yang akan diusulkan kembali setelah ini.

Ini hadir dari kebiasaan sebuah masyarakat yang tidak mampu memenuhi hak sesuatu yang diperingati tersebut. Maka untuk memberikan kepedulian dan perhatian mereka, hari itu diadakan.

Silakan baca sejarah hari-hari tersebut. Hari ibu ini contohnya. Hari yang mulai diramaikan di Amerika ini menjadi hari yang diperingati mengingat masyarakat Amerika adalah masyarakat tanpa ikatan kekeluargaan seperti yang kita kenal dalam Islam. Semakin hari semakin renggang, bahkan bisa tidak saling kenal. Kawin cerai semakin membuat rumit hubungan antara anak dan orang tuanya. Tak ada bab birrul walidain dalam kajian etika mereka. Melihat itu semua, nurani mereka mulai terusik. Ibu yang berjasa –setidaknya- mengandung dan melahirkan, harus dihormati jasanya. Bahkan gereja tak sanggup menyuguhkan moral itu.

Hingga Anna Jarvis tahun 1908 untuk kali pertama membawa bunga yang dibagikan kepada para jemaat yang ada di gereja tempat dahulu ibunya beribadat. Sebelum ini semua, Julia Ward Howe sudah mengkampanyekan ibu untuk keselamatan di Inggris, dalam rangka menyatukan wanita untuk melawan peperangan yang sedang terjadi.

Anna Jarvis memilih waktu Minggu, karena ia ingin menjadi peringatan yang berkekuatan spiritual gereja. Konggres Amerika baru menyepakatinya sebagai hari resmi nasional pada tahun 1914.

Tapi tahukah Anda, kalau Anna Jarvis akhirnya menyesal?

Hanya 9 tahun setelah diresmikannya hari ibu, Amerika mulai berpesta di setiap hari ibu tiba. Dengan dalih menghormati ibu, mereka hanya memanfaatkannya untuk bisnis dan marketing berbagai hadiah di pasar. Sakralitas gereja telah berubah menjadi ajang marketing pasar.

Anna Jarvis menyesal, “Saya berharap bahwa saya tidak memulai hari ini, karena ia telah keluar dari kendalinya.”

Anna mengerahkan sisa hidup dan hartanya untuk mengembalikan hari yang telah disesalinya itu. Dengan semua kemarahannya. Tapi tanpa hasil. Bahkan disebutkan bahwa ia ditangkap tahun 1948 gara-gara demo atas keruhnya hari ibu, dia dianggap mengganggu kesalamatan.

Maaf, apa istimewanya sejarah hari ibu di atas?

Bermula dari pembagian bunga dan hanya berujung pada penjualan bunga. Bermula dari gereja berujung penyesalan. Dan akhirnya penangkapan

Maaf, apa istimewanya?

Cermatilah semua peringatan yang mereka buat. Tak jauh dari suasana seperti itu.

Perlahan tapi pasti, peringatan seperti ini mulai memasuki tubuh muslimin yang tak lagi mempunyai pertahanan kokoh. Termasuk negeri ini. Kita lupa kalau kita ini muslim. Tak memerlukan sebuah hari di mana kita menghormati dan berbakti kepada ibu kita.

Karenanya,

Maaf ibu

Tak ada bunga untukmu

Tidak kartu tak pula makanan kesukaanmu

Hanya di hari ibu

Karena aku sadari sepenuhnya

Kaulah segalanya

Tempatmu hanya sederajat di bawah Allah dan Rasul-Nya

Tiga kali lipat di atas ayah kau lebih mulia

Surga ada di bawah telapak kakimu

Kau pintu surga anak-anakmu

Makhluk yang paling berhak terhadap diriku adalah dirimu

Perintah Al-Quran untuk bakti hanya menyebut jasamu

Al Adabul Mufrod karya Al Bukhari membuka dengan bab tentangmu

Doa ampunan dan kasih sayang selalu terkirimkan untukmu

Setelah amal dan dalam sujud panjangku selalu kado doa untukmu

Bahkan,

Bakti kepadamu tak terhenti setelah tiadamu

Untuk mengantar yang terbaik hingga peristirahatan indahmu

Untuk semua janji, kewajiban, dan wasiatmu

Untuk saudara dan kerabatmu

Untuk teman baikmu

Karena seluruh hidupku untukmu,

di setiap hela nafasku

Sadar, tawaf menggendongmu tak mampu membalas setetes air susumu

Dan,

Karena bakti tak mengenal hari.

Rabu, 16 Desember 2015

Ucapan Selamat Hari Raya Agama Lain

TENTANG UCAPAN SELAMAT

Namanya memberikan selamat itu sama dengan memberikan afirmasi dan apresiasi. Misal: selamat atas kelulusan kamu. Maksudnya kita dukung, ikut bangga serta bahagia atas kelulusan dia.

Sebaliknya kita tidak akan memberikan selamat kepada hal2 yang buruk. Misal: selamat ya atas korupsi kamu, kapan korupsi lagi? Selamat ya atas perselingkuhanmu, btw kapan selingkuh lagi? ��

Atau kita juga tidak akan memberikan selamat kepada hal2 yang bertentangan dengan akidah kita. Misal: selamat ya atas terpilihnya Lia Eden jadi penerima wahyu, titip salam ya buat malaikat Jibril. ��

Atau: selamat ya atas terpilihnya Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Termasuk: selamat ya atas hari kelahiran tuhan Yesus. Padahal menurut doktrin iman fundamental kita itu sama saja dengan syirik.

Dari kecil saya punya banyak teman nasrani. Rumah saya dan rumah ortu sebelahan persis sama orang nasrani. Gak pernah ucapin natal. Tapi tetap tetanggaan baik. Kalo sakit dijenguk. Kalo sedang kesulitan ditolong.

Apalagi ada fakta ini -->  Paus: Natal Bukan 25 Desember http://hizbut-tahrir.or.id/2012/12/18/paus-natal-bukan-25-desember/

Kalo kita lihat dalil dan bagaimana leluhur kita semasa khilafah berinteraksi dg umat nasrani, jauh lebih dalam dari sekedar berucap natal.

Ketika awal2 perang salib, tentara salib pernah coba provokasi orang2 nasrani Syam yg hidup di negara khilafah, agar mau menikam dari dalam.

Tapi umat Nasrani di Syam menolak keras hasutan makar tentata salib tadi. Mereka justru bahu-membahu berperang di samping umat Islam.

Mengapa umat Nasrani merasa lebih dekat dg umat Islam, ketimbang tentara salib? Karena dalam negara Islam tdk menganut slogan toleransi picisan.

Umat Nasrani yg hidup di negara khilafah diberi kebebasan beribadah dan hak selayaknya muslim. Bahkan mrk diberi hakim/peradilan khusus.

Tidak hanya kesetaraan hukum/ekonomi saja, hubungan dengan nasrani pun sampai ke level yg lbh intim: Wanita2 ahli kitab boleh dinikahi pria muslim.

Mengapa negara khilafah dan umat Islam sedemikian dekat dg non muslim khususnya nasrani? Simple. Karena mereka memenuhi perintah Allah SWT.

Ibnu Hazm jelaskan, "diantara kewajiban muslim adalah membela tetangganya ahlu dzimmah (nasrani) yg diserang, dan rela mati demi mereka."

Al-Qarafiy berkata, "kewajiban muslim kepada ahlu dzimmah adalah bersikap lembut, memenuhi kefakiran mereka, dan tidak beri penghormatan berlebihan, serta kewajiban muslim lainnya adalah melawan orang2 yg hendak menyerang dan merampas harta dan kehormatan ahlu dzimmah (nasrani)."

(FYI, kutipan ulama2 di atas sumbernya Kitab Daulah Islam karya Syaikh Taqiyudin An-Nabhani. Sebuah kitab yang wajib dikaji, diadopsi dan diamalkan khusunya oleh semua anggota Hizbut Tahrir.)

Kita harus bisa tegas bilang: Tapi maaf, kalo soal akidah dan ibadah; lakum dinukum waliyadin. Dari dulu sampai sekarang lo gue end. Termasuk NO ucapkan selamat natal.

Bilang saja, "maaf ini soal prinsip kami tidak bisa beri ucapan selamat natal, tapi jika kalian sebagai ahlul dzimmah diserang, maka agama kami mewajibkan membela kalian, meski nyawa taruhannya. If that's OK for you."

Btw itu muslim yang sok toleran dan bersikeras ucapin natal udah siap belum dengan kewajiban syariat bela tetangganya ahlu dzimmah (nasrani) sampai mati? ��

Sedulur kito @pedyanto.

Selasa, 08 Desember 2015

Bagaimana Islam bangkit kembali

Sekarang yg dibutuhkan adalah dakwah revolusioner, permasalahannya sistemik, maka dakwahnya juga harus menawarkan solusi sistemik juga


Bagaimana bisa kok dalam waktu 23 Tahun kenabian Islam bisa berjaya , periode mekah 13 tahun DAN di  madinah 10 tahun.  

Dan dilanjutkan sistem kekhilafahan yang akhirnya bisa membebaskan negeri-negeri dari kegelapan kepada cahaya Islam selama 13 abad. Selama 13 Abad itu pula Islam tersebar hampir 2/3 dunia. 

Allah berjanji akan memperlihatkan kekuasan Islam dari ujung barat sampai timur nah baru 2/3 dibebaskan sisanya kita-lah next generation generasi pembebas. 

Islam berhasil menakhlukan eropa, Andalusia dan perdaban Islam sangat mensejahterakan rakyatnya kala itu.

Tapi aneh bin ajaib kejayaan Islam 13 abad itu kini sejarahnya menghilang, jarang orang tahu tentang kejayaan Islam yang pernah ada.

Sepertinya ada peradaban yang hilang dalam buku sejarah kita.  

Sebenarnya kalau kita pingin jadi pemuda Islam akhir zaman yang tangguh abad ini caranya gampang follow aja Rasulullah saw secara kaffah, coba baca biografi team dakwah Rasulullah saw, bagaimana Rasulullah membina teamnya, dan bagimana metode dakwah Rasulullah saw 

   Skema Metode Dakwah Rasulullah
1.      PERIODE  MEKKAH
A. Tahapan Pembinaan dan Pengkaderan
1.  Pemantapan Aqidah
2.  Pembentukan Syakhsiyah Islamiyah
3.  Pembentukan Kutlah/kelompok Dakwah
B. Tahapan Interaksi dan Perjuangan
1.  Pertarungan Pemikiran (shira’ul fikr)
2.  Perjuangan Politik (Kifahus siyasi)
2.      PERIODE  MADINAH
C.  Tahapan Penerapan Syarat Islam Kaffah (tathbiq ahkam al Islam)
1.  Membangun Masjid
2.  Membina Ukhuwah Islamiyah
3.  Mengatur urusan masyarakat dengan syariat Islam
4.  Membuat Perjanjian dengan warga non muslim
5.  Menyusun strategi politik dan militer
6.  Jihad & Dakwah

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (iaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab:2

Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunan (ajaran)nya dari kami, maka amalan itu akan tertolak (di sisi Allah subhanahu wata’ala).”(HR. Muslim)